Makam Ulama' - KH. Asy’ari dan KH. Muntaha Alh. (Deroduwur )

Makam Ulama' - KH. Asy’ari dan KH. Muntaha Alh. (Deroduwur )

Makam KH. Asy’ari dan KH. Muntaha, Alh. terletak di dataran tinggi pegunungan Dieng. Tepatnya di desa Deroduwur , Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Berjarak kurang lebih 8 km dari desa Kalibeber (desa terbesar di kawasan tersebut). Akses menuju ke makam pun terbilang mudah. Umumnya, masyarakat sekitar mengendarai sepeda motor saat menziarahi makam. Akan tetapi tersedia angkutan umum yang dapat mengantar peziarah sampai ke lokasi makam.

Kondisi makam cukup bagus. Bersih dan terawat. Banyak santri di sekitar makam yang menjaga kebersihan dan keutuhan bangunannya. Ukuran makam tersebut kurang lebih 10 x 4 meter. Di sekitar komplek makam berdiri pusat pendidikan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu umum; SMP dan SMA Takhassus Deroduwur  yang berafiliasi dengan Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah, Kalibeber.

Bagi masyarakat Wonosobo, makam Deroduwur termasuk makam yang wajib diziarahi. Di sana disemayamkan ulama kharismatik, shaleh, pejuang kemerdekaan dan pembela umat. Di antaranya adalah KH. Asy’ari yang merupakan generasi kedua dari pengasuh pesantren Al-Asy’ariyyah. Generasi pertamanya adalah KH. Abdurrohim, ulama seperjuangan dengan Pangeran Diponegoro.

Ada catatan sejarah yang mengisahkan latar belakang Mbah Abdurahim mendirikan pondok pesantren. Pada saat Diponegoro ditangkap oleh Belanda, para pengikutnya melarikan diri dari kejaran penjajah. Salah satu dari mereka adalah Mbah Abdurrohim. Beliau berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di lereng pegunungan Dieng yang kelak daerah tersebut dinamakan Kalibeber. Di desa inilah Mbah Abdurrohim menyebarkan dan mengajarkan Islam. Sepeninggal Mbah Abdurrohim, perjuangan dakwah islamiyah dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Asy’ari.

Menjelang kemerdekaan Indonesia, giliran Mbah Asy’ari yang dikejar-kejar penjajah Belanda, karena keberpihakannya pada rakyat dan sikap kerasnya menentang penjajahan. Untuk menghindari konfrontasi langsung dengan penjajah, Mbah Asy’ari mengungsi ke dataran tinggi yang terjal di pegunungan Dieng. Daerah itu sangat sulit dijangkau orang. Bersama dengan berjalannya waktu, daerah tersebut kemudian dinamakan desa Deroduwur. Belum sempat kembali ke Kalibeber, Mbah Asy’ari jatuh sakit dan wafat para tahun 1948 di tempat pengungsian. Beliau dimakamkan di sana.

Selain sebagai tempat peristirahatan KH. Asy’ari, makam Deroduwur juga tempat persemayaman putra dan penerus perjuangan beliau, yakni KH Muntaha, Alh. Mbah Mun, sapaan akrab KH Muntaha, wafat pada hari Rabu, 29 Desember 2004. Beliau adalah ulama penghafal Al-Qur’an yang kharismatik, alim dan pejuang kemerdekaan. Beliau pernah menjabat sebagai komandan pasukan Hisbullah pada zaman merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Masyarakat Wonosobo dan sekitarnya menyejajarkan Mbah Mun dengan ulama-ulama ternama lainnya di Indonesia.

Beberapa tokoh penting yang disemayamkan di Makam Deroduwur antara lain, KH. Asy’ari, KH. Muntaha Alh, Ny. Hj. Maryam Muntaha, dan KH. Mustahal Asy’ari.

Saat ini, tidak kurang dari 10.000 orang menziarahi makam Deroduwur setiap tahunnya. Pada bulan Ruwah (Sya’ban) dan Poso (Ramadhan) jumlah peziarah yang terdiri dari santri, alumni Ponpes Al-Asy’ariyah dan masyarakat umum, meningkat tajam dibandingkan bulan-bulan lainnya.