Ikutilah Program Tadarus di Group WhatsApp Penjaga Tradisi Sunnah, dengan periode setiap 15 hari sekali. BERGABUNG

Sejarah Kota Wonosobo dan Daftar 23 Nama Bupati Wonosobo (1825-2020)

Sejarah Kota Wonosobo dan Daftar Nama Bupati Wonosobo (1825-2020)
Sejarah Kota Wonosobo dan Daftar 23 Nama Bupati Wonosobo (1825-2020)

Asal Asul Kota, Penetapan Hari Jadi, Titi Mangsa dan Daftar Nama Bupati Wonosobo 1825 – 2020

Kata Wonosobo berasal dari bahasa Jawa: Wanasaba (hanacaraka), yang secara harafiah berarti: "tempat berkumpul di hutan (tempat bertemunya para pandita)". Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari bahasa Sanskerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua buku dari Mahabharata: "Sabhaparwa" dan "Wanaparwa"

Pada zaman dulu Dieng merupakan tempat bertemunya para pandita dari berbagai penjuru Dunia melalui pantai utara Pulau Jawa, kapal yang ditumpangi oleh para pandita merapat melalui dermaga di wilayah Kabupeten Batang, lalu menuju ke Dieng hal tersebut dibuktikan dengan adanya peninggalan purbakala antara lain: Anda Budha, Candi-candi, tingkat bawanda dan barang-barang perhiasan dari emas (menurut Dr. Kusnin seorang arkeologi menuturkan bahwa Dieng merupakan pusat kebudayaan, Hindhu tertua yang bersejarah perlu sekali dilestarikan dan menurut beliau juga, kepustakaan tentang Dieng ada Leiden Belanda).

Permulaan sejarah Wonosobo ditengarai dengan datangnya 3 tokoh pada abad ke 17, yaitu Kyai Kolodete, Kyai Walik, Kyai Karim. Ketiganya datang ke Wonosobo dengan sanak keluarganya. Sesaat itu kondisi Wonosobo masih merupakan hamparan hutan belantara yang amat menakutkan, 2 gunung pengayom mengawasi dari timur, gunung sumbing dan Gunung sindoro, singkat kata jarang orang berani mengarungi hutan kawasan Wonosobo, bebasan “SATO MARA KEPLAYU, JANMA MARA JATI”.

Tiga tokoh di atas diyakini keberaniannya telah berhasil mendirikan kota Wonosobo dengan peran masing-masing ialah: Kyai Walik sebagai tokoh perancang kota, Kyai Karim sebagai tokoh yang mampu meletakkan sendi-sendi dasar pemerintahan, sementara itu Kyai Kolodete memang tidak begitu jelas peranannya, Namun Kyai Kolodete dikenal sebagai pennguasa di daerah Dataran Tinggi dieng.

Tonggak sejarah Kabupaten Wonosobo dimulai dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Raden Muh. Ngarpah sebagai Bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Setjanegara. / ( K.R.T Setjonegoro. )

Tumenggung Jogonegoro ada yang menyebut KRT Setjonegoro


Tumenggung Jogonegoro merupakan tokoh yang tak lepas dari sejarah Wonosobo. Beliau lahir pada hari Minggu Wage, 4 Agustus 1675 dan merupakan salah satu keturunan bangsawan dari Yogyakarta. Tumenggung Jogonegoro merupakan seorang Bupati Kerajaan Mataram, mula-mula sebagai kepala prajurit ia bernama Ng. Singowedono. Karena jasanya terhadap kerajaan beliau mendapat gelar Raden Tumenggung Jogonegoro. Tumenggung Jogonegoro sendiri merupakan cucu dari pendiri Wonosobo yaitu Kyai Karim.


Makam Tumenggung Jogonegoro terletak di desa Pekuncen, Selomerto. Konon ketika beliau wafat, rencana akan dimakamkan di sebelah barat sungai serayu demi keamanannya. Sebab orang-orang Belanda sering melecehkan makam-makam orang terkenal. Namun setelah jenazah dibawa menyebrang Sungai Serayu, tiba-tiba terjadi banjir besar sehingga rombongan harus kembali.

Sampai sekarang Tumenggung Jogonegoro dikenal sebagai tokoh yang sakti dan mempunyai daya linuwih, hingga banyak masyarakat Wonosobo masih menkeramatkan beliau. Dalam berbagai acara seperti mujadahan nama Tumenggung Jogonegoro sering disebut untuk melantarkan hajat bahkan tiap hari Kamis Wage, Jumat Kliwon, Senin Wage, dan hari Selasa Kliwon masih banyak orang berziarah dengan maksud tujuan masing-masing.

Pada masa perang Diponegoro (1825 - 1930) , Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro.Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Musbch atau kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Kyai Muhamad Ngarpah. Dalam pertempuan melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu Pangeran Diponegoro memberi nama kepada Kyai Muhamad Ngarpah dengan sebutan Tumenggung Setjonegoro. Selanjutnya Tumenggung Setjonegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelas TUMENGGUNG SETJONEGORO. Eksistensi kekuasaan Setjonegoro didaerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dimuat setelah perang Diponegoro selesai. Setjonegoro adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan kota Wonosobo sekarang ini..

PENETAPAN HARI JADI WONSOBO

A.      Memepertimbangkan bahwa : Hari Jadi pada hakekatnya merupakan awal daripada sejarah suatu bangsa / Negara dan sejarah itu sendiri merupakan guru abadi bagi suatu Bangsa / Negara / Daerah yang sedang membangun. Disamping itu dengan ditetapkannya Hari Jadi Kabupaten Wonosobo maka diharapkan semangat membangun darahnya dalam rangkaian satu kesatuan dengan pembangunan Negara Republik Indonesia.

B.       Tanggal 24 Juli tahun 1825 merupakan hari jadi Wonosobo., berdasarkan hasil penelitian dari fakultas Sastra Indonesia UGM Yogyakarta yang dipimpin oleh Dr. Joko Surya serta hasil seminar tahun 1994 yang diikuti oleh para ahli yang terkait dan para tokoh masyarakat Wonosobo.

TITI MANGSA

Hari jadi Kabupaten wonosobo ditandai dengan Surya Sengkala “PANDHAWA MULAT HASTA NYAWIJI: yang bermakna sebagai berikut:
-       PANDHAWA bermakna 5
-       MULAT bermakna 2
-       HASTA bermakna 8
-       NYAWIJI bermakna 1

Jadi Pandawa Mulat Hasta Nyawiji (1825) bermakna menyatunya pemimpin daerah kabupaten Wonosobo disimbulkan dengan Muspika Plus ( Bupati, Kodim, Polres, Kejaksaan dan Ketua Pengadilan) merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam membangun Wonosobo.


DAFTAR NAMA BUPATI WONOSOBO DARI 1825 – 2020
1.        Tumenggung Setjonegoro periode 1825 - 1832
2.        Tumenggung R Mangoe Koesoemo periode 1832 - 1857
3.        Tumenggung R Kertonegoro periode 1857 - 1863
4.        Tumenggung R Tjokro Hadisoerjo periode 1863 - 1869
5.        Tumenggung R Soerjo Hadikoesoemo periode 1869 - 1898
6.        Tumenggung R Soerjo Hadinegoro periode 1893 - 1919
7.        Adipati/ Bupati KDH R.A.A. Sosro Hadiprodjo periode 1920 - 1944
8.        Bupati R Singgih Hadipoero periode 1944 - 1946
9.        Bupate R. Soemindro Periode 1946 - 1950
10.    Bupati R Kadri Periode 1950 - 1954
11.    Bupati R Oemar Soerjokoesoemo periode 1955
12.    Bupati R Sangidi Hadisoetirto periode 1955 - 1957
13.    Kepala Daerah Rapingoen Wimbo Hadisoedjono periode 1957 - 1959
14.    Bupati R Wibowo Helly periode 1960 - 1967
15.    Bupati Kepala Daerah Drs Darodjat Ans periode 1967 - 1974
16.    Bupati Kepala Daerah R Marjaban periode 1974 - 1975
17.    Bupati Kepala Daerah Drs Soekanto periode 1975 - 1985
18.    Bupati Kepala Daerah Drs Poedjiharjo periode 1985 - 1990
19.    Bupati Kepala Daerah Drs H Soemadi periode 1990 - 1995
20.    Bupati Kepala Daerah Drs H Margono periode 1995 - 2000
21.    Bupati Drs. H Trimawan Nugrohadi, M.Si Periode 2000 - 2005
22.    Bupat Drs H. A. Kholiq Arif M.Si Periode 2005 – 2015
23.  Bupati Eko Purnomo 2016 - sekarang
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

2 komentar

  1. www.seasonbet77.com
    http://198.50.133.242
    Agen Judi | Agen Bola | Agen Sbobet

    Agen Sbobet
    Agen Judi
    Agen Bola
    Agen Judi Online
    Agen Casino
    Prediksi Bola
    Agen Tangkas
    Agen Poker
    Agen IBCBET
    Agen 1sCasino
    1. Buat saudara punya permasalahan ekonomi:hub aki santoro karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro yang berminat hub di no 0823 1294 9955 atau   KLIK DISINI 100% tembus



© EL-ZENO . All rights reserved. Developed by Jago Desain