Indonesia Website Awards

Biografi Maulana Maghribi Wonobodro

Biografi Maulana Maghribi Wonobodro


Identitas Syekh Maulana Maghribi yang dipahami oleh sebagian besar informan adalah sebuah nama/sebutan yang dinisbatkan bagi mereka atau ulama yang menyebarkan agama Islam di tanah jawa yang asal-usulnya berasal dari Maroko (al-Mamlakah al-Maghribiyah).

Sejarah Maulana Maghribi

Ada dua keterangan yang kami dapat mengenai Syekh Maulana Maghribi:
Pertama, menurut keterangan Habib Lutfi terkait sejarah SYEKH MAULANA MAGHRIBI yang telah dirangkum dalam Tabloid Logika:
“Sekitar akhir abad ke-14 Masehi atau abad ke-8 Hijriyah, Syekh Maulana Maghribi yang memiliki nama asli Syekh Ibrohim Asmoro bin Jamaludin Husen dan dikenal dengan sebutan Syekh Jamaludin Kubro Pandito Ratu berasal dari Hadratulmaut melakukan pelayaran melalui jalur India. Tujuan pelayarannya adalah akan mendakwahkan agama Islam yaitu agama Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ke seluruh wilayah belahan dunia yang pada akhirnya sampai ke wilayah bumi Nusantara. Awalnya, rombongan yang dipimpin oleh Syekh lbrohim Asmoro tersebut transit di India dan bertemu dengan 90 orang saudagar lainnya dari Timur Tengah, Maroko dan Afrika. Saudagar yang berjumlah 90 tersebut dikenal sebagai angkatan Syekh Maulana Maghribi. Mereka merupakan ulama-ulama besar yang piawai karena dari rombongan para ulama tersebut ternyata memiliki berbagai disiplin ilmu hebat di bidangnya masing-masing. Sebagian ulama ahli dalam bidang ilmu pertanian dan sebagian yang lain ahli dalam bidang perniagaan sehingga wawasan dan pola pikir mereka bisa melengkapi kesempurnaan dalam pelayaran.

Pertama kali wilayah Nusantara yang di datangi adalah Selat Malaka. Selat Malaka adalah pintu gerbang menuju ke lautan Nusantara. Selanjutnya, Rombongan transit di wilayah Samudra Pasai dan Aceh. Setelah transit di Aceh, Syekh lbrohim Asmoro mengajak seluruh
rombongan yang di dalamnya ikut juga saudara sepupu Syekh untuk segera melanjutkan perjalanannya menuju ke Semarang.

Sampailah rombongan Syekh Ibrohim Asmoro di daerah Semarang. Pada saat di semarang ini, Syekh Ibrohim Asmoro menyarankan kepada rombongannya untuk membagi tugas menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama dipimpin langsung oleh Syek Ibrohim Asmoro, petualangannya berniaga dan syiar Islam di Pulau jawa melalui jalur darat. Sementara rombongan yang lain menyisir pantai Laut Jawa menuju ke arah timur.

Rombongan yang melintasi daratan Jawa ini pun dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok melakukan perjalanan ke Demak di sini mereka transit sebentar, kemudian meneruskan perjalananya hingga sampai ke daerah Trowulan. Hingga kini kelompok mereka banyak yang menetap di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedangkan kelompok jalan darat yang
lainnya menuju ke Gresik. Di sini kelompok tersebut kembali bertemu dengan kelompok yang melintasi laut dengan menggunakan kapal.

Akhirnya agama Islam tersebar di kalangan rakyat atau masyarakat oleh jasa para tokoh-tokoh penyiar agama Islam baik para wali, para saudagar dari timur tengah, maroko dan afrika.”

Kedua, hasil wawancara Kabag Humas Kab. Pekalongan dengan Habib Lutfi bin Ali di Kayu Geritan terkait sejarah SYEKH MAULANA MAGHRIBI. Berikut ini adalah hasil wawancaranya:
“Pekalongan bukan kota baru, Pekalongan adalah kota tua. Dapat dikatakan Pekalongan termasuk kota tertua di Jawa. Di Jawa ada tiga kota tua; Jeporo, Pekalongan dahulu lebih dikenal Plelen atau Alasroban.

Plelen itu mulai dari pantai utara Pekalongan sampai Weleri disebut Alasroban. Alasroban itu bukan berarti hanya Waleri Banyu Putih dari Subah sampai pantai utara itu disebut Alasroban. Dijaman sebelum wali 9 Pekalongan sudah ada. Bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa Pekalongan itu kota tua bisa dilihat dari bukti-bukti peninggalan sejarah terutama makam-makam tua yang ada di Pekalongan, Batang dan sekitarnya. Karena dulu Batang termasuk kabupaten Pekalongan.

Kita ambil mulai dari Syekh Jamaludin Husen dahulu. Beliau dengan rombongannya berlabuh melalui Pasai. Beliau kelahiran dari Indo-Cina, daerah Kamboja, Vietnam dan sekitarnya. Ibu beliau dari Champa ayah beliau Ahmad Syah Jalal adalah kelahiran India dan ayah Syah Jalal adalah menantu raja India Naser Abad. Ahmad Syah Jalal menikah dengan putri raja Champa.

Putri Champa itu melahirkan Syekh Jamaludin Husen. Dari Jamaludin Husen beliau mempunyai anak 11. Itulah kakek dari wali 9. Perjalanan Syekh Jamaludin dengan para ulama yang dari Timur Tengah. Ada juga yang dari Maroko. Maka rombongan tersebut ada yang menyebut al Maghrobi-al maghrobi. Rombongan tersebut yang pertemuannya di Pasai langsung menuju Jawa, tepatnya Semarang.

Dari Semarang meneruskan perjalannya ke Trowulan-Mojokerto. Karena akhlaknya dan budi pekertinya yang baik beliau sangat di hormati di Majapahit. Meskipun beda agama pada waktu itu, beliau mendapat beberapa sebidang tanah dari Gajah Mada. Terutama membuat sebuah padepokan pendidikan yang mana santri beliau itu tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Selain itu juga karena sangat popular maka disebut syekh Jumadil Kubro. Rombongan beliau berpencar dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Yang terbanyak di Jawa Timur, Jawa Tengah, sebagian kecil ke Jawa Barat. Dan makam-makam beliau dinamakan almaghrobi-al maghrobi. Kalau makam almaghrobi itu banyak sekali, pantas, karena orangnya bukan satu tapi banyak.

Rombongan kedua dipimpin oleh dua tokoh, yang pertama Malik Ibrohim dan Sayid Ibrohim Asmoroqondi atau Pandito Ratu. Ketika itu, rombongan Malik Abdul Ghofur yang juga merupakan kakak Malik Ibrohim yang disebut juga Almaghrobi-almaghrobi. Rombongan ini lebih banyak dari sebelumnya. Malik Ibrohim itu cucu dari Syekh Jumadil Kubro. Rombongan ini juga berpencar, dan diantara rombongan-rombongan tersebut ada yang ke Pekalongan sekitar 25 al Maghrobi. Makam beliau juga terpencar-terpencar dengan nama Maulana Maghrobi.

Diantaranya Prabu Siliwangi memanggil beliau itu kakek (pernahnya). Jadi Maulana Maghrobi itu lebih tua dari Prabu Siliwangi. Diantara anggota rombongan ada yang wafat satu orang. Yang wafat ini dimakamkan di pesisir Semarang. Juga dikenal dengan Syekh Jumadil Kubro. Lokasinya dekat Kali Gawe. Dan ada juga yang wafat di Pekalongan, namanya yang pertama Syarifudin Abdullah, Hasan alwi al Quthbi. Beliau bersama rombongannya tinggal di daerah Blado Wonobodro. Terus yang dua orang lagi Ahmad al Maghrobi dan Ibrohim Almaghrobi tingal di daerah Bismo. Tiga  tokoh tersebut dimakamkan di Bismo dan Wonobodro. Yang di Bismo membangun masjid di Bismo yang di Wonobodro membangun masjid di Wonobodro. Terus yang di Setono Abdul Rahman dan Abd Aziz Almaghrobi.

Diantaranya lagi Syekh Abdullah Almaghrobi Rogoselo, Sayidi Muhammad Abdussalam Ki Gede Penatas Angin. Jadi Almaghrobi tersebut terbagi atas empat generasi:
a.    Generasi Jamaludin al Husen,
b.    Generasi Ibrohim Asmoroqondi,
c.    Generasi Malik Ibrohim, dan
d.   Generasi Sunan Ampel.

Termasuk yang dimakamkan di Paninggaran, daerah Sawangan; Wali Tanduran. Beliau itu termasuk generasi kedua walaupun bukan golongan al Maghrobi. Beliau sangat gigih dalam syi’ar Islam di Paninggaran. Kalau dalam bahasa Sunda Paninggaran itu berarti cemburu.

Di Pekalongan ini masih terpengaruh, sebagian Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur. Karena perbatasan Mangkang itu wilayah Majapahit terus kebarat ikut Pajajaran kuno. Pekalongan sendiri terpengaruh bahasa sunda seperti ada nama tempat, Cikoneng Cibeo di daerah sragi.

Kalau kita melihat pertumbuhan Islam pada waktu itu yang dibawa oleh beliau-beliau Almaghrobi-almaghrobi. Yang 25 tersebut sebagian dimakamkan di Wonobodro. Sebelum wali 9 yang masyhur itu, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri Sunan, Kali Jogo dll, itu sudah ada wali sembilan seperti lembaga wali Sembilan jamannya Sunan Ampel itu.

Lembaga wali Sembilan itu seperti Wali Abdal, Wali Abdal itu ada 7. Wafat satu akan ada yang menggantikannya, wafat satu ganti, wafat satu ganti dan seterusnya. Jumlahnya tidak lepas dari 7. Nah wali 9 pun demikian. Termasuk Kigede Penatas Angin itu wali 9, yang di Wonobodro juga bagian dari wali Sembilan, tentunya generasi sebelum wali Sembilan yang masyhur itu. Ki Gede Penatas Angin adalah yang mempertahankan Pekalongan dari serangan Portugis”.

Tambahan lagi, dalam mengungkap identitas dan ketokohan Syekh Maulana Maghribi peneliti menjumpai satu informan yang mempunyai pemahaman dan keyakinan bahwa tokoh Syekh Maulana Maghribi tidak berkenan untuk dibicarakan identitas dan ketokohannya. Pemahaman semacam ini, ia dapatkan dari sebuah pengalamannya mengikuti kegiatan ziarah di makam Syekh Maulana Maghribi bersama Alm. K.H. Tohir bin K.H. Abdul Fatah. Ia menjelaskan bahwa Alm. K.H. Tohir selalu menampakkan sisi ketawadu’an yang luar biasa terhadap Syekh Maulana Maghribi ketika berada di makamnya. Menurut informan ini, Almarhum tidak pernah menceritakan secara rinci mengenai identitas pribadi Syekh Maulana Maghribi dikarenakan beliau pernah mendapat isyarat dari Syekh Maulana Maghribi bahwa Syekh Maulana Maghribi tidak berkenan dibicarakan identitas dan ketokohannya oleh pemimpin peziarah (Kyai) di area makam. “Ketika acara khoul dan apabila Sang Kyai berceramah dan menyinggung kesejarahan Syekh Maulana Maghribi di lokasi ziarah, biasanya microfon yang digunakan Kyai akan mati atau pasti ada gangguan pada microfonnya.”, ungkap informan yang berprofesi sebagai guru ketika dimintai keterangannya mengenai cerita tokoh Syekh Maulana Maghribi itu.


Mau donasi lewat mana?

Paypal
Bank BRI - KHASUN / Rek : 3660-01-015356-53-8
Traktir creator minum kopi dengan cara memberi sedikit donasi. klik icon panah di atas
Baca juga :
elzeno

Subscribe YouTube Kami Juga Ya