Ikutilah Program Tadarus di Group WhatsApp Penjaga Tradisi Sunnah, dengan periode setiap 15 hari sekali. BERGABUNG

Makam Kyai Raden Santri Keturunan Sunan Kalijaga di Kalikajar Wonosobo

Makam Kyai Raden Santri Keturunan Sunan Kalijaga

Makam Kyai Raden Santri Keturunan Sunan Kalijaga
  
Akses Ke Lokasi Sulit dan Terancam Longsor

Kecamatan Kalikajar merupakan salah satu wilayah penghasil komoditi pertanian yang cukup terkenal, namun masih sedikit yang tahu bahwa di dusun Semunggang ada sebuah makam ulama yang sudah ramai jadi tujuan ziarah. Berada di desa Maduretno makam ulama besar tersebut diyakini sebagai keturunan Raden Sahid (Sunan Kalijaga) dan Raden Sangit (Sunan Muria). Menurut pengelola komplek makam, KH Khamim Al Mustafa, di tempat itulah jasad Kyai Raden Santri dan istrinya dikebumikan. Keduanya dikisahkan membaktikan hidupnya berjuang menyebarkan Islam dan memerangi kejahatan di seantero Negeri.

Kondisi makam Kiai Raden Santri atau Kiai Semunggang yang berada di Dusun Semunggang, Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo tersebut terancam longsor.

“Makam ini berusia hampir 400 tahun dan memiliki keunikan berupa pusaranya yang memanjang mencapai 6 meter,” kata Kyai Khamim.

Mengingat nama besar Kyai Raden Santri, kini komplek makam seluas hampir 1000 meter persegi itu diakui Kyai Khamim banyak didatangi peziarah. Bahkan peziarah dari luar kota dan luar pulau Jawa juga telah mendatangi makam tersebut.

“Yang datang untuk berziarah tak hanya warga setempat, tapi banyak yang dari luar kota, bahkan pernah ada yang dari Kalimantan,” imbuh Khamim, yang merupakan keturunan dari Kyai Raden Santri.

Area pemakaman Kyai Raden santri sekilas memang tampak seperti area pemakaman biasa saja, namun aura istimewanya menurut para peziarah sudah terasa sejak memasuki komplek. Makam tersebut terlihat lebih tinggi dari makam lain ukuran yang jauh lebih panjang hingga 6 meter juga mengundang rasa penasaran. Menurut KH Khamim bentuk memanjang tersebut karena Nyai R Santri dikebumikan berdampingan lurus hingga bentuknya memanjang.

Selain makam, peninggalan lainnya berupa Al-Quran kuno tulisan tangan berusia ratusan tahun. Alquran kuno juga menjadi salah satu bukti rekam jejak kiai besar tersebut. Para peziarah umumnya datang pada malam-malam Kliwon.

“Ada yang dari Demak, Kudus, Cirebon, Tegal, dan kota-kota lainnya datang kesini,” kata KH Khamim. Sehingga keluarga KH Khamim menyediakan fasilitas pendukung seperti makanan dan minuman sederhana untuk para pengunjung yang jumlahnya mencapai 100 orang saat ramai.

Perawatan makam, termasuk penerangan listrik maupun air dikerjakan bersama anak sulungnya, Jawahirrul Qurtubi Al Mustofa dan dipenuhi dengan dana pribadinya. Namun sayangnya, respon pengunjung untuk sekedar membantu perawatan makam belum tampak.
“Bahkan sekarang jalanan menuju area makam juga rusak parah, kami berniat untuk memperbaiki namun terkendala dana,” urai Khamim.

Tak hanya itu saja, tanah di samping makam disebut Khamim juga mulai gembur karena terkikis air hujan yang akhir-akhir ini turun dengan intensitas tinggi. “Kami khawatir makam ini longsor dan jatuh ke jurang kalau tidak ada penanganan lebih lanjut,” jelas Khamim.

Ia berharap, baik masyarakat umum maupun pemerintah Kabupaten bersedia menunjukkan kepedulian untuk turut merawat area pemakaman dan masjid Karomah Nurul Huda yang telah mulai menjadi destinasi wisata religi tersebut.

“Kami sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak agar makom ini tidak sampai rusak,” pungkasnya.

Wonosobo, 02 Februari 2016

Erwin Abdillah, Kalikajar


Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar

© EL-ZENO . All rights reserved. Developed by Jago Desain