Ikutilah Program Tadarus di Group WhatsApp Penjaga Tradisi Sunnah, dengan periode setiap 15 hari sekali. BERGABUNG

Kisah Pengarang Kitab Maulid Shimtud Duror

Kisah Pengarang Kitab Maulid Shimtud Duror
Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, sosok wali Allah yang sangat istimewa. Hidupnya selalu diwakafkan untuk kemaslahatan umat. Beliau pengarang kitab Maulid Simtud Duror yang sangat masyhur di Indonesia. Habib Ali lahir di Tarim, Hadramaut, Jumat tanggal 24 Syawal 1259 H / 1839 M.

Ketika Habib Ali lahir, ayahnya, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sedang menghadiri majelis ilmu di kediaman gurunya, Habib Abdullah bin Husein bin Thahir. Habibah Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, ibu anak tersebut, dengan segera mengirim utusan untuk menyampaikan kabar gembira kepada suaminya tercinta.


Mendengar berita ini, semua turut bahagia, bahkan Habib Abdullah bin Husein bin Thahir secara spontan berkata, “Duhai Muhammad, namakanlah putramu, Ali, dia akan mewarisi kewalian Habib Ali bin Alwi Kholiq Qasam.”

Di waktu umur Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi masih 7 tahun, ibunda beliau memanggil beliau dan berkata,

“Yaa ‘Ali, engkau mau dapat ridlaku di dunia dan akhirat ..?”

“Iya, ya ummii ..” Jawab beliau.

“Kalau engkau mau dapat ridla dariku, ada syaratnya .. !!” Kata ibu Habib ‘Ali.

“Apa syaratnya, ummi .. ??”

“Engkau harus bertemu dengan datukmu, Rasulallah SAW.” Jawab ummi dia.

Habib ‘Ali Al Habsyi yang masih kecil bingung.

Dia tidak mengetahui bagaimana cara untuk bertemu dengan kakeknya.

Mulailah ia mencari tahu dan belajar dengan guru gurunya.

Pergilah ia ke salah satu tempat majelis Ulama, kemudian dia berkisah tentang permasalahannya untuk mendapat ridla ibunya dengan cara seperti tadi.

Lalu gurunya berkata,

“Yaa ‘Ali, kalau engkau ingin bertemu dengan Rasulallah SAW maka engkau harus mencintai Beliau dahulu dan tak akan ada rasa cinta jika engkau tak kenal dengan yang dicinta.”

Belajarlah beliau tentang sejarah Baginda Nabi SAW. Tidak hanya itu, setiap orang alim yang ada selalu ditanya tentang masalah ini. Walhasil, banyaklah guru beliau. Ada yang berkisah kalau guru beliau mencapai ribuan orang.

Seiring waktu berjalan, bertambahlah umur beliau sampai mencapai usia kurang lebih 20 tahun, beliau akhirnya bermimpi bertemu kakeknya Nabi SAW. Begitu terbangun dari tidurnya, dia langsung memberitahu ibunya.

“Yaa ummii … ‘Ali sudah bertemu Baginda Rasulallah SAW.” Kata Al Habib’ Ali sambil menangis haru. Tapi, apa jawab ibunda beliau .. !!! ??

“Yaa ‘Ali, dimana engkau bertemu Dia?”

“Di dalam mimpiku, Ummii.” Kata Al Habib ‘Ali.

“Yaa ‘Ali, pergi engkau dari hadapanku. Engkau bukan anakku … !!!! ”

Menangislah beliau. Keinginan hati untuk memberikan sang ibu pupus sudah.

Dalam kegelisahannya, ia kembali bertanya kepada guru gurunya, namun tak satupun dapat menjawabnya.
Mengapa ibu dia justru marah setelah mendapat laporannya tentang mimpinya.

Pada suatu malam ia kembali bermunajah untuk dapat bertemu kakeknya Nabi SAW. Larut dalam tangisan tengah malam, alhasil tidurlah ia. Dan Alhamdulillah beliau kembali bertemu dengan kakeknya Nabi SAW.

“Yaa Jiddy (Kakek ku), Yaa Rasulullah SAW. Anakmu ini ingin menanyakan tentang perihal ummii.” Kata Al Habib ‘Ali kepada Rasulallah SAW.

“Duhai ‘Ali anakku, sampaikan salamku kepada ibumu ..” Jawab Rasulullah SAW di dalam mimpi Habib Ali.

Begitu bangun, dia langsung mengetuk pintu kamar umminya sambil menangis tersedu sedu.

“Duhai Ummii, anakmu telah bertemu lagi dengan Baginda Rasulullah SAW dan Beliau kirim salam kepada Ummii.” Kata Al Habib ‘Ali.

Tiba-tiba dari kamar, ibunda beliau keluar dan berkata,

“Yaa ‘Ali, kapan dan dimana engkau bertemu datukmu Nabi SAW?” Tanya ibu al-Habib’ Ali

“Aku bertemu beliau di dalam mimpiku.” Jawab Al Habib ‘Ali dengan tangisan yang tak putus-putus.

“Pergi dari hadapanku ya ‘Ali … !!! Engkau bukan anakku .. !! “Jawabnya.

Jawaban sang ibu benar-benar meruntuhkan hati Al Habib ‘Ali.

Kemudian pintu kamar ibu Al Habib ‘Ali Al Habsyi tertutup lagi, meninggalkan dia seorang diri.

Esok harinya ia mengeluh kembali kepada guru-gurunya namun tak satupun dari mereka yang dapat menenangkan hati beliau. Semakin hari kegelisahannya semakin menjadi-jadi, setiap detik setiap saat dia terus-terusan
mengeluh dan bermunajah serta bertawajjuh kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Tibalah suatu malam, ia hanyut jauh ke dalam lautan munajah dan mahabbah yang amat sangat dahsyat kepada Nabi SAW. Kemudian beliau sujud yang sangat lama, tiba-tiba dalam kondisi sujud beliau mendengar suara yang lemah lembut,

“Yaa ‘Ali, angkat kepalamu .. !!! Datukmu ada di mata zhohirmu. ”

Begitu Al Habib ‘Ali Al Habsyi mengangkat kepalanya seraya membuka kedua pelupuk matanya perlahan-lahan, bergetarlah seluruh tubuh Habibana’ Ali. Dia menangis dan berkata,

“Marhaba bikum Yaaa Jiddii, Yaa Rasulullah ..”

Ternyata sosok tersebut adalah Rasulullah SAW berada di hadapan Al Habib ‘Ali.

Kemudian Nabi SAW berkata, “Duhai anakku, sampaikan salamku kepada ummi-mu dan katakan kepadanya kalau aku menunggunya di sini .. !!”

Seolah-olah gempa. Bergetar sekujur tubuh Al Habib ‘Ali Al Habsyi, ia merangkak ke kamar ibundanya.

“Yaa ‘Ummi, aku telah bertemu kembali dengan Nabi SAW dengan mata zhohirku dan Beliau menunggu Ummi di kamar’ Ali ..”

Ibunda beliau membuka pintu kamarnya seraya berkata, “Ini baru anakku engkau telah mendapat ridla dari ku.”

Penulis: Al Habib ‘Ali Ridlo bin Luqman Al Kaff
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar

© EL-ZENO . All rights reserved. Developed by Jago Desain