Ikutilah Program Tadarus di Group WhatsApp Penjaga Tradisi Sunnah, dengan periode setiap 15 hari sekali. BERGABUNG

Rasulullah Adalah Sebab Dari Penciptaan Alam Semesta

Rasulullah Adalah Sebab Dari Penciptaan Alam Semesta
Rasulullah Adalah Sebab Dari Penciptaan Alam Semesta

Allah SwT berfirman : 
“Jika bukan karena engkau (Muhammad) tidak akan Kuciptakan alam semesta ini” 
(Hadits Qudsi)

Jika bukan karena cinta Allah SwT kepada Muhammad Saw, al-Insan al-Kamil, niscaya takkan tercipta seluruh maujud di alam semesta ini. Nabi Saw sendiri pun diriwayatkan pernah mengatakan kepada sahabat Jabir bin Abdullah: ”Wahai Jabir! Sesungguhnya Allah SwT sebelum menciptakan segala sesuatu lebih dahulu menciptakan cahaya Nabimu (Muhammad) dari Nur Allah”

Di dalam hadits lain yang cukup panjang, diriwayatkan bahwa Imam Ali as berkata : ”Yang paling pertama Allah ciptakan adalah Nur kekasih-Nya, Muhammad Saw. 424.000 tahun kemudian barulah Dia menciptakan air, al-‘Arsy, al-Kursy, langit, bumi, al-Lauh (Mahfuzh), al-Qalam, surga, neraka, malaikat, Adam dan Hawa. Ketika Dia menciptakan Nur Nabi kita, Muhammad Saw, Dia meletakkannya di antara kedua tangan-Nya ‘Azza wa Jalla sementara ia (Nur Muhammad) menyampaikan puja puji, tasbih dan tahmid, kemudian Allah melihat kepadanya (Nur Muhammad) dan berkata kepadanya : ‘Wahai hamba-Ku, engkaulah obyek keinginan (al-murad), dan engkaulah orang yang menginginkan-Ku (al-murid), engkaulah sebaik-baik ciptaan. Demi Keperkasaan-Ku dan demi Keagungan-Ku, jika bukan karena engkau tidak Kuciptakan alam semesta ini. Karena itu, siapa pun yang engkau cintai, Akupun mencintainya dan siapa pun yang engkau benci Akupun membencinya. Nur itu pun menyala semakin terang, lalu Dia mengangkatnya sehingga cahayanya menyebar….”

Allah SwT berfirman di dalam Hadits Qudsi, “Wahai Muhammad! Demi Keperkasan-Ku (‘Izzati) dan demi Keagungan-Ku (Jalali) Jika bukan karena engkau, tidak Kuciptakan Adam. Dan jika bukan karena Ali tidak Kuciptakan surga!

Diriwayatkan di dalam sebuah Hadits Qudsi, ketika Ahlul Bait, dimasukkan ke dalam selimut (al-kisa’), Yang Maha Kuasa berfirman, ”Ketahuilah olehmu, wahai para malaikat-Ku, dan semua yang ada di surga, bahwa tidaklah Kuciptakan surga dan bumi beserta isinya, melainkan untuk mereka berlima yang ada di dalam al-Kisa’ itu!” Mereka yang ada di dalam al-Kisa itu adalah Nabi Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Apakah Yang Dimaksud Insan Sempurna Itu?
Rasulullah Saw bersabda: 
“Barangsiapa yang melihatku maka sesungguhnya ia telah melihat al-Haq (Allah)”

Ibn ‘Arabi mengatakan, alam adalah cermin bagi Tuhan dan alam mempunyai banyak bentuk yang jumlahnya tidak terbatas. Karena itu, dapat dikatakan bagi Tuhan terdapat banyak cermin yang tidak terbatas jumlahnya. Ibarat seseorang yang berdiri di depan banyak cermin yang ada di sekelilingnya, Tuhan adalah Esa tetapi bentuk atau gambar-Nya banyak sebanyak cermin yang memantulkan bentuk atau gambar itu. Kejelasan gambar pada cermin pun begantung pada kwalitas kebeningan cermin itu. Semakin bening atau bersih suatu cermin semakin jelas dan sempurna gambar yang dipantulkannya. Cermin paling sempurna bagi Tuhan adalah Manusia Sempurna (al-Insan Kamil), karena ia memantulkan semua nama dan sifat Tuhan, sedangkan makhluk-makhluk lain memantulkan hanya sebagian nama dan sifat itu. Setiap makhluk adalah lokus atau wadah penampakan diri Tuhan dan Manusia Sempurna adalah lokus penampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Hal ini karena Manusia Sempurna mampu menyerap semua nama dan sifat Tuhan dan seimbang.

Intensitas penampakan nama-nama Tuhan pada masing-masing makhluk bervariasi sesuai dengan “kesiapan” (isti’dad) masing-masing makhluk untuk menerima penampakan nama-nama Tuhan.
Mungkin benda-benda mineral memiliki kesiapan yang paling kecil untuk menerima penampakan Tuhan, kemudian diikuti tumbuh-tumbuhan, hewan sampai manusia yang paling besar kesiapannya untuk menerima manifestasi (tajaliyat) Tuhan. Dan yang paling lengkap, sempurna dan seimbang di dalam penerimaannya akan tajaliyat Tuhan adalah Manusia Sempurna.

Contoh Manusia Sempurna yang paling aktual adalah Nabi Muhammad Saw, sebagaimana bunyi hadits di atas ,”Barangsiapa yang melihatku maka sesungguhnya ia telah melihat al-Haq (Allah)”. Ketika seseorang melihat Rasulullah Saw, hakikatnya ia telah melihat tajaliyat Tuhan yang paling sempurna dan seimbang. Contoh Manusia Sempurna lainnya adalah para imam suci Ahlul Bait, antara lain : Imam Ali bin Abi Thalib as. Karena posisi dan derajat spiritual Imam Ali yang persis dibawah Nabi Saw.

Nabi Saw mengatakan,”Aku dan ‘Ali dari pohon yang satu –sama – (syajarah yang wahidah), sementara manusia lainnya dari pohon yang berbeda (syatta)”

Kata syatta juga berarti yang tercerai berai. Sementara kata wahidah juga bisa berarti suatu yang terkumpul menjadi satu sehingga unsur-unsur yang bercampur tersebut tidak bisa dibedakan lagi.
Ibn ‘Arabi qs mengatakan, ”Karena wujud Manusia Sempurna adalah menurut gambar sempurna (Tuhan), maka ia berhak menerima khilafah dan kewakilan dari Allah Ta’ala di alam…Kami tidak mengartikan Manusia dengan Manusia Binatang (biologis) belaka, tetapi dengan manusia dan khalifah. Dengan kemanusiaan dan khilafah ia berhak menerima gambar dalam kesempurnaan. Setiap manusia bukanlah khalifah. Menurut pendapat kami, Manusia Binatang benar-benar bukanlah khalifah”

Sementara itu Imam Ali bin abi Thalib as telah berkata, ”Aku adalah Hujah Allah dan aku adalah Khalifah Allah, dan aku juga al-Shirat al-Mustaqim…”

Di lain hadits Rasulullah Saw memasukkan Hasan dan Husain as, sabda beliau Saw, ”Wahai Ali! Aku dan engkau berasal dari pohon yang satu. Aku akarnya, engkau cabangnya, sementara al-Hasan dan al-Husain adalah ranting-rantingnya, dan barangsiapa yang bergantung dengan ranting-ranting itu niscaya Allah masukkan ia ke dalam Surga!” Dari hadits-hadits ini bisa dipastikan bahwa Hasan dan Husain pun termasuk dari Manusia Manusia Yang Paling Sempurna.

Tentang kecintaan Tuhan kepada Ahlul Bait sudah banyak dimaklumi dan sudah banyak buku-buku yang menulis tentang ini.

Namun demikian, Manusia Sempurna tidak terbatas hanya pada lingkungan Ahlul Bait saja, manusia-manusia yang memiliki integritas keimanan dan ketakwaan yang tinggi juga mampu mencapai tingkatan al-Insan Kamil sejauh kesiapan mereka untuk mencerap cahaya hidayah dan cinta-Nya. Dan tentu saja tingkatan mereka ini berada di bawah tingkatan para nabi dan para imam suci Ahlul Bait Nabi as.

“Satu hal ada, satu hal akan ada, dan satu hal lagi tidak akan ada. Yang pertama adalah cinta-Ku kepadamu. Yang kedua adalah engkau akan “melihat”-Ku. Yang ketiga adalah engkau tidak pernah dapat mengenal-Ku dengan pengetahuan sempurna”
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utama…

Posting Komentar

© EL-ZENO . All rights reserved. Developed by Jago Desain