Pemakaian kalimat Sa‎yyidina dalam Sholawat

Pemakaian kalimat Sa‎yyidina dalam Sholawat

Diantara shalawat yang telah saya bahas adalah Shalawat Ibrahimiyah beserta Khasiatnya. Namun kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, "Bolehkah memberikan tambahan kata Sayyidina pada shalawat Ibrahimiyah, mengingat hadits yang meriwayatkan tentang shalawat tersebut tidak menggunakan lafal "sayyidina" ? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, saya tidak akan memberikan pendapat saya secara pribadi akan tetapi akan saya ambilkan dari al-Quran dan pendapat para ulama besar yang tentunya sudah terbukti kualitas keilmuan, keulamaan dan kehebatannya. Dan berikut ini penjelasan dari al-Quran dan pendapat dari para ulama, Syaikh, dan para Imam yang mulia.

Pertama, Penjelasan dalam al-Quran. Dalam al-Quran terdapat perintah yang secara tegas memerintahkan umat islam untuk mengagungkan rasulullah dan memanggilnya dengan panggilan penuh penghormatan. Allah berfirman dalam al-Quran:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
Artinya: “Janganlah kalian memanggil Rasul (Muhammad) seperti kalian memanggil sesama orang diantara kalian”. (QS.An-Nur : 63).

Dalam kitab Al-Iklil Fi Istinbathit-TanzilImam Suyuthi mengatakan: Dengan turunnya ayat tersebut Allah melarang ummat Islam menyebut beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam atau memanggil beliau hanya dengan namanya, tetapi harus menyebut atau memanggil beliau dengan Ya Rasulullah atau Ya Nabiyullah. Menurut kenyataan sebutan atau panggilan demikian itu tetap berlaku, kendati beliau telah wafat.

Kedua, Pendapat Imam Ramli dalam kitab Syarhu al-Minhaj. Sebagaimana dijelaskan dalam Afdhalush Shalawat, beliau menjelaskan sebagai berikut:

قال الإمام الشمس الرملي في شرح المنهاج الأفضل الإتيان بلفظ السيادة لأن فيه الإتيان بما أمرنا به وزيادة الأخبار بالواقع الذي هو الأدب فهو أفضل من تركه. وأما حديث لا تسيدوني في الصلاة فباطل لا أصل له. كما قاله بعض متأخري الحفاظ

Artinya: "Imam Ramli dalam kitab Syarhu al-Minhaj berkata, "Yang lebih utama adalah menyertakan lafadz siyadah, karena di dalamnya terkandung pemenuhan terhadap apa yang diperintahkan dan menambah penjelasan sesuai kenyataan yang merupakan tatakrama, dan tatakrama lebih baik dilakukan daripada ditinggalkan. Adapun hadits yang menyatakan, "Janganlah menambahkan lafadz sayyidina untuk (menyebut nama)ku di dalam shalat, adlah hadist palsu, karena tidak ada dasarnya. Demikianlah para ulama ahli hadits mutaakhirin memberikan pernyataannya."

Ketiga, Pendapat Imam Ahmad Ibn Hajar. Sebagaimana dijelaskan dalam Afdhalush Shalawat bahwasanya Imam Ahmad Ibn Hajar memberikan penjelasan terkait penggunaan lafal sayyidina dalam kitabnya al-Jauhar al-Munazhzham sebagai berikut:

وقال الإمام أحمد بن حجر في الجوهر المنظم وزيادة سيدنا قبل محمد لا بأس به بل هي الأدب في حقه صلى الله عليه وسلم ولو في الصلاة أي الفريضة

Artinya: "Imam Ahmad ibn Hajar telah menyatakan dalam kitabnya yang berjudul Al-Jauhar al-Munazhzham bahwasanya menambahkan lafadz sayyidina sebelum lafadz Muhammad tidak ada salahnya, bahkan itu merupakan tatakrama memperlakukan Rasulullah shallallahu 'Alaihi wa Sallam sekalipun di dalam shalat fardhu."

Keempat, Pendapat Imam Ibn Athaillah. Ibnu ‘Athaillah dalam kitabnya, Miftahul-Falah mengenai pembicaraannya soal sholawat Nabi mewanti-wanti pembacanya sebagai berikut: “Hendak- nya anda berhati-hati jangan sampai meninggalkan lafadzsayyidina dalam bersholawat, karena didalam lafadz itu terdapat rahasia yang tampak jelas bagi orang yang selalu mengamalkannya”.

Kelima, Penjelasan dari sahabat Ibnu Mas'ud Radhiyallaahu 'Anhu. Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan kepada orang-orang yang menuntut ilmu kepadanya:“Apabila kalian mengucapkan shalawat Nabi hendaklah kalian mengucapkan shalawat dengan sebaik-baiknya. Kalian tidak tahu bahwa sholawat itu akan disampaikan kepada beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam, karena itu ucapkanlah : ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat-Mu, rahmat-Mu dan berkah-Mu kepada Sayyidul-Mursalin (pemimpin para Nabi dan Rasulullah) dan Imamul-Muttaqin (Panutan orang-orang bertakwa)”

Keenam, Pendapat Al-Allamah Al-Bajuri. Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut:

الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ

Artinya:

“Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil”(Hasyiah al-Bajuri, jilid 1, halaman 156).

Ketujuh, Pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami.Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut:

وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ"لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ" ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ

Artinya:

“Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dla'if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”.

Hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” secara tegas digolongkan sebagai hadits palsu atau hadits Maudlu’ karena di dalamnya terdapat kesalahan kaidah kebahasaan yang seringkali distilahkan dengan al-Lahn yang artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Perhatikan kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”. Dengan demikian bentuk fi’il Muta'addi atau kata kerja yang membutuhkan kepada objek dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”. Dengan kata lain, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak akan pernah menggunakan al-Lahn semacam ini, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab). Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad.