20 Makam Ulama dan Habaib Wonosobo

Makam KH. Asy’ari dan KH. Muntaha, Alh.

Makam KH. Asy’ari dan KH. Muntaha Alh.


Makam KH. Asy’ari dan KH. Muntaha, Alh. terletak di dataran tinggi pegunungan. Tepatnya di Desa Deroduwur, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Berjarak kurang lebih 4 km dari Kalibeber (desa terbesar di kawasan tersebut).

Akses menuju kemakam pun terbilang mudah. Umumnya, masyarakat sekitar mengendarai sepeda motor saat menziarahi makam. Akan tetapi tersedia angkutan umum yang dapat mengantar peziarah sampai ke lokasi makam.

Kondisi makam cukup bagus. Bersih dan terawat. Banyak santri di sekitar makam yang menjaga kebersihan dan keutuhan bangunannya. Ukuran makam tersebut kurang lebih 10 x 4 meter. Di sekitar komplek makam berdiri pusat pendidikan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu umum; SMP dan SMU Takhassus Dero yang berafiliasi dengan Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah, Kalibeber.

Bagi masyarakat Wonosobo, makam Dero Duwur termasuk makam yang wajib diziarahi. Di sana disemayamkan ulama kharismatik, shaleh, pejuang kemerdekaan dan pembela umat. Di antaranya adalah KH. Asy’ari yang merupakan generasi kedua dari pengasuh pesantren Al-Asy’ariyyah. Generasi pertamanya adalah KH. Abdurrohim, ulama seperjuangan dengan Pangeran Diponegoro. 

Ada catatan sejarah yang mengisahkan latar belakang Mbah Abdurahim mendirikan pondok pesantren. Pada saat Diponegoro ditangkap oleh Belanda, para pengikutnya melarikan diri dari kejaran penjajah. Salah satu dari mereka adalah Mbah Abdurrohim. Beliau berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di lereng pegunungan Dieng yang kelak daerah tersebut dinamakan Kalibeber. Di desa inilah Mbah Abdurrohim menyebarkan dan mengajarkan Islam. Sepeninggal Mbah Abdurrohim, perjuangan dakwah islamiyah dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Asy’ari.

Menjelang kemerdekaan Indonesia, giliran Mbah Asy’ari yang dikejar-kejar penjajah Belanda, karena keberpihakannya pada rakyat dan sikap kerasnya menentang penjajahan. Untuk menghindari konfrontasi langsung dengan penjajah, Mbah Asy’ari mengungsi ke dataran tinggi yang terjal di pegunungan Dieng. Daerah itu sangat sulit dijangkau orang. Bersama dengan berjalannya waktu, daerah tersebut kemudian dinamakan desa Dero Duwur. Belum sempat kembali ke Kalibeber, Mbah Asy’ari jatuh sakit dan wafat para tahun 1948 di tempat pengungsian. Beliau dimakamkan di sana.

Selain sebagai tempat peristirahatan KH. Asy’ari, makam Dero Duwur juga tempat persemayaman putra dan penerus perjuangan beliau, yakni KH Muntaha, Alh. Mbah Mun, sapaan akrab KH Muntaha, meninggal pada hari Rabu, 29 Desember 2004. Beliau adalah ulama penghafal Al-Qur’an yang kharismatik, alim dan pejuang kemerdekaan. Beliau pernah menjabat sebagai komandan pasukan Hisbullah pada zaman merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Masyarakat Wonosobo dan sekitarnya menyejajarkan Mbah Mun dengan ulama-ulama ternama lainnya di Indonesia.

Beberapa tokoh penting yang disemayamkan di Makam Dero Duwur antara lain, KH. Asy’ari, KH. Muntaha Alh, Ny. Hj. Maryam Muntaha, dan KH. Mustahal Asy’ari.

Saat ini, tidak kurang dari 10.000 orang menziarahi makam Dero Duwur setiap tahunnya. Pada bulan Ruwah (Sya’ban) dan Poso (Ramadhan) jumlah peziarah yang terdiri dari santri, alumni Ponpes Al-Asy’ariyah dan masyarakat umum, meningkat tajam dibandingkan bulan-bulan lainnya.


Makam Karangsari


Makam Karangsari merupakan makam keluarga Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah, Kalibeber, Wonosobo. Sebagian ulama yang berjasa membesarkan pesantren dimakamkan di sana. Sebut saja Raden Hadiwijaya dan KH Abdurahim.

Keberadaan makam Karangsari sejatinya tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Pondok Pesantren Al-Asyáriyah itu sendiri. Pendirian ponpes dirintis oleh Raden Hadiwijaya yang juga dikenal dengan KH. Muntaha bin Nida Muhammad pada tahun 1832.

Diceritakan bahwa pada mulanya Raden Hadiwijaya mendapatkan saran dari Mbah Glondong Jogomenggolo supaya mendirikan masjid dan padepokan santri di Dusun Karangsari/Ngebrak Kalibeber. Padepokan itu lalu dibangun Raden Hadiwijaya di pinggiran Kali Prupuk. Di sana beliau mengajarkan ilmu baca tulis Al-Qur’an, Fiqh, dan Tauhid.

Semakin hari jumlah santri yang datang semakin banyak. Tempat yang tersedia pun semakin tidak memadai. Oleh karena itu, Raden Hadiwijaya memindahkan lokasi pesantren ke tempat yang sekarang ini menjadi lokasi Pondok Pesantren Al-Asyáriyah.

Sepeninggal Raden Hadiwijaya, kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kyai Abdurrohim. Sebelumnya, beliau menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Jetis, Parakan, Temanggung, di bawah bimbingan Kyai Abdullah. Kyai Abdurahim sendiri kemudian diambil menantu oleh Kiai Abdullah.

Di bawah kepemimpinan Kyai Abdurrohim itulah pondok pesantren Kalibeber mengalami kemajuan yang cukup pesat. Beliau wafat pada 3 syawal 1315 H, dan dimakamkan di kompleks pondok pesantren yang lama, yaitu Karangsari, Ngebrak. Karena itu, makam tersebut diberi nama Karangsari.

Kondisi makam masih bagus. Pihak keluarga Ponpes Al-Asyáriyah secara berkala melakukan perbaikan bagian-bagian bangunan makam yang rusak. Peziarah pun ramai. Setiap hari sejumlah santri datang dan membaca Al-Qurán, shalawatan serta mengirimkan doa untuk para ulama itu.


Makam Ketinggring

Makam Ketinggring Bendoro R.A Purdaningrat

Ini adalah makam bangsawan Jawa. Mereka yang bersemayam di sana memiliki garis keturunan langsung dengan Hamengkubuwana ke-3. Bendoro R.A Purdaningrat salah satunya. Makam tersebut terletak di jalan raya Wonosobo-Kalibeber, km. 1.5 dari arah kota melalui Argopeni.

Menurut juru kunci makam, Ahmad Supyan, Raden Purdaningrat adalah orang pertama yang meratakan alun-alun Wonosobo. Beliau pula yang mendirikan pendopo dan tinggal di sana. Sejauh ini, Raden Purdaningrat tidak diketahui kapan tanggal lahirnya. Namun, Makam Ketinggring diyakini sudah berusia kurang lebih 250 tahun.

Meski sudah cukup tua, kondisi fisik Makam Ketinggring masih cukup bagus.  Beberapa bagian bangunan masih utuh. Maklum saja, pihak keluarga yang diwakili Haji Wahyu Sukodjo sudah dua kali melakukan pemugaran. Renovasi pertama pada 19 Maret 1953. Dan kedua pada 18 Maret 1990.

Ahmad Supyan menuturkan bahwa peziarah ke Makam Ketinggring tidak terbatas masyarakat Wonosobo saja. Mereka berasal dari berbagai daerah. Dari dalam dan luar Jawa. Ada yang datang dari Manado, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Solo dan lain sebagainya.

Di antara para peziarah itu adalah keluarga Keraton Yogyakarta dan Solo. Fakta tersebut mempertegas kebenaran sejarah bahwa Raden Purdaningrat merupakan keluarga Keraton Solo dan Yogya yang bertugas membangun Wonosobo di masa lalu.

Aktivitas para peziarah di makam tersebut di antaranya membaca ayat suci Al-Qurán dan berdoa bagi para ahli kubur. Tak ketinggalan, masyarakat sekitar pun melakukan hal yang sama. Utamanya pada malam Jumát.


Makam KH. R. Abdullah Fatah

Makam KH. R. Abdullah Fatah terletak di Dusun Tegalgot, Desa Gedongan, Kecamatan Kepil, Wonosobo

Makam KH. R. Abdullah Fatah terletak di Dusun Tegalgot, Desa Gedongan, Kecamatan Kepil, Wonosobo. Beliau adalah ulama besar yang masih memiliki hubungan darah dengan Keraton Yogyakarta. Beliau juga menantu Mbah Lerik yang makamnya berada di Desa Dempel, Kalibawang.

Menurut Abdullah Majid, Juru Kunci makam, KH. R. Abdullah Fatah lahir pada tahun 1812 dan meninggal dunia pada tahun 1911.

Ada cerita menarik seputar KH. R. Abdullah Fatah dan Tegalgot tempat beliau bermukim. Dahulu ada sebuah daerah bernama Sigedong. Daerah itu subur, tetapi ada kerajaan jin di dalamnya. Tidak sembarang jin. Mereka bangsa jin sakti. Sehingga, siapa pun yang nekat masuk ke sana dapat dipastikan hilang tanpa jejak.

Oleh karena itu, pemerintah desa Tegalgot mengumumkan, bagi siapa yang mampu membersihkan Sigedong dari kekuasaan jin, maka ia akan mendapatkan tanah itu tanpa membayar pajak kepada pemerintah desa.

Suatu hari datanglah seorang ulama bernama KH. R. Abdullah Fatah. Ia mengikuti sayembara itu dan berhasil mengalahkan bangsa jin yang bercokol di Sigedong. Ia pun mendapatkan hadiah seperti yang dijanjikan. KH. R. Abdullah Fatah kemudian mendirikan pondok pesantren di lokasi tersebut. Ini merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Wonosobo.

Bangunan makam KH. R. Abdullah Fatah cukup bagus. Berlantai keramik, beratap genteng. Dan temboknya bercat putih bersih. Makam tersebut mulai dibangun pada tahun 1911 oleh keluarga KH. Abdullah Fatah. Letak makam berada di belakang masjid Tegalgot.


Makam KH. Ibrahim

Makam KH. Ibrahim Jawar Wonosobo

Makam KH. Ibrahim berada di Dusun Jawar, Desa Blederan, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Makam ini ramai diziarahi umat Islam ketika digelar haul. Yaitu peringatan wafatnya KH Ibrahim pada 4 Robiul Akhir tahun 1423 H, atau tahun 1994 M.

KH. Ibrahim adalah pendiri Pondok Pesantren Raudhatu At-Thalibin di Jawar. Sebuah pesantren tradisional yang mendidik dan mengajari santri ilmu fiqh, tasawuf, akhlak, tata bahasa Arab, dan disiplin Islam lainnya.

Makam KH. Ibrahim terawat dengan baik. Seluruh bagian bangunannya masih utuh, meskipun cat temboknya tampak sudah usang.

Para santri dan wali santri ramai menziarahi makam ini. Menurut penjaga makam, Nur Faiq, jumlah peziarah tiap tahunnya mencapai kurang lebih 3.000 orang. Jumlah itu sesuai dengan data yang tercatat dalam buku peziarah.


Makam Kyai Asmorosufi


Bangunan Makam Kyai Asmorosufi cukup bagus. Berlantai keramik dan beratap seng. Beberapa bagian bangunan yang lain masih tampak baru. Termasuk pagar besi yang mengitarinya. Tidak tampak sisa-sisa bangunan yang lama, meskipun usia makam itu telah mencapai ratusan tahun. Makam tersebut berada di Dusun Bendosari, Kecamatan Sapuran, Wonosobo.

Kyai Asmorosufi hidup pada abad ke 17 M. Beliau adalah keturunan Prabu Brawijaya V. Dan masih memiliki hubungan darah dengan R.T. Selomanik. Tugas yang mereka emban pun sama, yaitu menyebarkan agama Islam.

Dari Kyai Asmorosufi itu, kemudian lahir kyai-kyai ternama di Wonosobo. Antara lain Kyai Ali Bendosari, Kyai Syukur Sholeh, Kyai Mansur Krakal, Kyai Abdul Fatah Tegalgot, Kyai Soleh Pencil, Kyai Asy’ari, Kyai Abdul Fakih, Kyai Muntaha dan Kyai Hasbullah.

Dahulu Kyai Asmorosufi berdakwah di Sapuran. Di sana beliau mendirikan Masjid. Tepatnya di Dukuh Bendosari. Masjid itulah yang dipercaya masyarakat sebagai basis perkembangan Islam di tahun-tahun berikutnya.

Seperti halnya ulama lain di Nusantara, Kyai Asmorosufi disemayamkan di dekat masjid yang beliau dirikan. Masjid dan makam tidak dapat dipisahkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati sang ulama. Juga untuk menjaga kemanunggalan pusara dengan warisannya yang begitu berharga.

Tidak sulit untuk mencapai makam. Hanya berjarak 2 km dari jalan alternatif Wonosobo-Magelang dan Wonosobo-Purworejo. Karena itulah jumlah peziarah ke Makam Kyai Asmorosufi cukup banyak. Menurut Mahbub, juru kunci makam, jumlah peziarah mencapai ribuan orang per tahunnya.

Maksud dan tujuan para peziarah itu berbeda-beda. Ada yang bertawassul. Ngalap berkah. Ada pula yang hanya ingin mendoakan sang ulama. Mereka membaca Al-Qur’an, tahlil dan mujahadah.


Makam Kyai Ngarpah

Kyai Ngarpah adalah Tumenggung Setjonegoro. Makam beliau berada di Dusun Ciledok, Desa Ndempel, Kalibawang, Wonosobo

Nama lain dari Kyai Ngarpah adalah Tumenggung Setjonegoro. Makam beliau berada di Dusun Ciledok, Desa Ndempel, Kalibawang, Wonosobo. Diperkirakan, beliau meninggal dunia pada pertengahan abad ke 19 M.

Tumenggung Setjonegoro tidak lain adalah bupati pertama Wonosobo. Ia menduduki jabatan tersebut dari tahun 1825 sampai 1832.

Nama Kyai Ngarpah mulai dikenal masyarakat luas ketika meletus perang Diponegoro. Kala itu, sang Tumenggung dipercaya Pangeran Diponegoro memimpin pasukan bergerilya di berbagai daerah. Ia dan pasukannya memperoleh banyak kemenangan melawan penjajah Belanda. Kemenangan yang paling menakjubkan ialah pada pertempuran di Legorok (sekarang masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta) pada 24 Juli 1825.

Karena keberhasilannya itulah, dia lalu dianugerahi gelar Tumenggung Setjonegoro oleh Pangeran Diponegoro. Ia pun dipercaya sebagai penguasa Ledok, yang sekarang menjadi Ciledok.

Makam Kyai Ngarpah tampak sederhana. Akan tetapi makam yang tidak memiliki atap ini menyimpan banyak mitos. Dahulu masyarakat pernah memberi atap pada makam. Namun, tidak diketahui sebabnya atap tersebut roboh dengan sendirinya. Sejak itu, makam Kyai Ngarpah tidak lagi beratap.

Di balik robohnya atap makam terungkap cerita bahwa sesungguhnya di atas makam itu ada cungkup yang tidak bisa dilihat mata orang biasa. Cungkup itu melindungi makam dari hujan. Itulah sebabnya, peziarah dilarang memakai payung meskipun hari sedang turun hujan.

Masyararakat yang menziarahi makam Kyai Ngarpah ini datang dari berbagai daerah. Dari dalam dan luar Wonosobo. Strata sosial mereka pun beragam. Ada masyarakat awam, akademisi, juga pejabat tinggi negara.


Makam Larangan Lor (Garung)

Makam Larangan Lor terletak di Desa Larangan Lor, Kecamatan Garung, Wonosobo. Jarak antara makam dengan desa kira-kira satu kilometer. Tidak jauh dari makam terdapat perkebunan jagung milik warga setempat.

Karena lokasinya terpencil, jalur menuju makam hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau jalan kaki. Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari pusat kota kecamatan Garung sampai ke lokasi makam.

Banyak kisah menarik muncul dari makam Larangan Lor itu. Aura mistiknya masih sangat kuat. Di samping karena lokasinya jauh dari permukiman penduduk, juga karena keberadaannya konon sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal itu seperti diungkapkan oleh Kyai Ahmad Zein, tokoh agama di desa setempat, “Makam waliyullah di sini tidak ajeg berada di tempat yang sama. Terkadang pindah ke tempat lainnya”.

Menurut Kyai Zein, di antara waliyullah (hamba yang dikasihi Allah) yang dimakamkan di sini adalah Syeikh Ngabdulkodir (alias Mbah Butuh), Kyai Rifa’i dari Cirebon, Mbah Kaki Kucir dan Mbah Kaki Joko.

Hanya saja, sampai saat ini, baru makam Syeikh Ngabdulkodir alias Mbah Butuh yang tampak. Sedangkan ketiga makam waliyullah yang lain belum muncul ke permukaan. Masih tersembunyi. Meski demikian, masyarakat tetap yakin bahwa makam ketiga waliyullah itu berdekatan dengan makam Mbah Butuh.

Misteri ketiga makam diwarnai pula dengan cerita menarik seputar sepak terjang keempat waliyullah tatkala masih hidup. Dari cerita lisan terungkap bagaimana mereka menyebarkan Islam dan membantu masyarakat. Menurut Kyai Zein, Mbah Butuh dulu seringkali didatangi orang yang membutuhkan sesuatu, “Nek butuh apa-apa maring ke Syeikh Ngabdulkodir”, sehingga beliau dijuluki Mbah Butuh.

Lain lagi dengan Kyai Rifa’i. Beliau merupakan salah satu tokoh yang memprakarsai pembuatan telaga Menjer yang berjarak kira-kira 1 km dari Desa Larangan Lor. Adapun Mbah Kaki Kucir, konon kalau pergi ke mana-mana selalu membawa kuda kepang yang dikucir. Beliau menari-nari di hadapan anak-anak. Di saat anak-anak sudah berkumpul, beliau mengajarkan tata cara wudhu, shalat dan ibadah-ibadah Islam lainnya.

Sedangkan Mbah Kaki Joko, dikenal sebagai sosok zuhud dan suka berkhalwat (menyendiri untuk beribadah kepada Allah). Menurut cerita, Mbah Kaki Joko tidak menikah sampai akhir hayatnya. Seluruh hidupnya diabdikan untuk ibadah dan berdakwah. Karena cara hidup Mbah Kaki Joko yang tidak menikah itulah, masyarakat meyakini bahwa sampai kapanpun akan ada warga Desa Larangan Lor, laki-laki atau perempuan, yang tidak menikah sepanjang hidupnya.


Makam Mbah Bolang

Ada cerita menarik di balik nama Mbah Bolang. Alkisah, pada zaman penjajahan, ada seorang ulama yang jadi buron nomer wahid penjajah Belanda. Dia seorang pejuang yang tangguh. Cerdik. Sulit ditangkap. Sebabnya adalah dia mampu mengubah wajahnya sekehendak hatinya. Di manapun berada, dia berganti-ganti rupa. Karena itulah dia dijuluki Mbah Bolang oleh para pengikutnya.

Masyarakat sekitar makam percaya bahwa makam Mbah Bolang sudah ada sejak tahun 1400 M. Lokasi makam tidak jauh dari Makam Mbah Bunder dan Makam Pangeran Bayat. Ketiga makam hanya dipisah oleh sungai.

Ukuran makam Mbah Bolang tergolong kecil. Hanya 3x2 m. Tidak ada juru kunci atau petugas yang menjaga makam. Meski demikian, kondisi makam terawat dengan baik. Lingkungan sekitarnya pun tampak tertata rapi dan bersih.

  

Makam Mbah Dimyati Kalilawang

Mbah Dimyati adalah ulama terkemuka Wonosobo. Nama lengkap beliau KH. Dimyati bin KH Abu Chamid.

Ketua PCNU pertama Wonosobo itu dipanggil menghadap Allah Swt pada 23 Oktober 1988. Karena kharisma dan pengaruh yang cukup besar bagi masyarakat Wonosobo, hingga kini pusaranya tetap ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Biasanya para peziarah membaca Al-Qurán, wirid atau mujahadahan di lokasi makam.

Mbah Dimyati dimakamkan di Dusun Kalilawang, Desa Sitiharjo, Kecamatan Garung, Wonosobo. Lokasi makam dapat dicapai dengan mobil atau sepeda motor, dengan waktu tempuh kira-kira 30 menit dari pusat kota Garung. Kondisi jalan menuju makam sudah beraspal. Halus. Mulus.  


Makam Mbah Lerik

Makam Mbah Lerik dikeramatkan banyak orang. Makam itu terletak di Desa Ndempel, Kecamatan Kalibawang, Wonosobo. Menurut kepercayaan penduduk tempatan, siapa saja yang berniat jahat di dalam makam akan mendapatkan celaka. Cepat atau lambat. Sekarang atau di hari kemudian.

Siapa itu Mbah Lerik? Tidak ada data yang meyakinkan yang menyingkap keremangan kabut sejarah tentangnya. Hanya ada cerita lisan yang sedikit menguak liku hidup dan asal-usulnya.

Cerita lisan itu menuturkan bahwa Mbah Lerik adalah nama lain dari Tumenggung Kerto Waseso. Beliau memiliki pertalian darah dengan Keraton Yogyakarta. Di saat perang Diponegoro pecah, Mbah Lerik bergabung dengan pasukan pribumi melawan penjajah. Pada masa itulah beliau terus bergerilya hingga sampai di Wonosobo. Kemudian membuka desa di daerah Ndempel.

Selain dikenal sebagai pejuang, Mbah Lerik juga disinyalir sebagai orang yang sakti. Beliau wafat kira-kira pada tahun 1830 M dan disemayamkan di Desa Ndempel. Bangunan makamnya tergolong bagus. Modelnya minimalis. Layaknya perumahan yang siap huni.

Masyarakat yang menziarahi makam itu tidak hanya penduduk setempat. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa.


Makam Pangeran Bayat

Makam Pangeran Bayat

Makam Pangeran Bayat berada di tengah pemakaman umum di desa Krasak Sibunderan, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Dinamakan Makam Pangeran Bayat, karena diyakini masyarakat luas bahwa di situ bersemayam Pangeran Bayat dan Sayid Abdurahman. Dari penuturan cerita lisan, Pangeran Bayat tak lain adalah keturunan Sunan Bayat. Adapun Sayid Abdurahman dipercaya masyarakat sebagai seorang sayid (keturunan langsung Rasulullah Saw) dari Irak yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Beliau mendapatkan gelar Sayid Atas Angin.

Tidak banyak catatan sejarah yang dapat diandalkan untuk melacak sosok dan perjuangan kedua tokoh itu. Namun, keberadaan Makam Pangeran Bayat menegaskan bahwa keduanya benar-benar pernah hadir di tengah masyarakat Jawa.

Makam yang berukuran 20x15 m persegi itu terawat dengan baik. Bangunannya pun telah direnovasi. Pada hari-hari tertentu, makam ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Lokasi makam cukup strategis, yakni di pinggir jalan raya antara Wonosobo kota dan Dieng, sehingga tak sulit bagi peziarah untuk mencapainya.  


Makam R.T Selomanik

Makam R.T Selomanik Ki Ageng Tumenggung Selomanik, Ki Ageng Tumenggung Branjang Kawat, Ki Ageng Tumenggung Udan Mimis, dan Ki Ageng Tumenggung Udan Toko

Di antara makam keramat yang ramai dikunjungi masyarakat adalah Makam R.T Selomanik. Letaknya di Desa Selomanik, Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo.

Tokoh-tokoh sejarah yang dimakamkan di lokasi tersebut antara lain: Ki Ageng Tumenggung Selomanik, Ki Ageng Tumenggung Branjang Kawat, Ki Ageng Tumenggung Udan Mimis, dan Ki Ageng Tumenggung Udan Toko.

Menurut sejarah, R.T Selomanik adalah julukan Kerto Waseso alias R.A.T Selomanik alias K.P.H. Balitar 1. Lebih masyhur dengan sebutan Mbah Selomanik. Beliau dikenang masyarakat karena kesalehan dan keahliannya di bidang Al-Qur’an.

Memang tidak banyak sejarah hidup Mbah Selomanik yang diketahui publik. Akan tetapi kepedulian pejabat tinggi negara terhadap kondisi makam itu mengindikasikan tingginya kedudukan Mbah Selomanik semasa hidupnya.

Makam ini pertama kali dibangun oleh Jendral Poniman pada tahun 1970. Kemudian direnovasi oleh Bupati Wonosobo, Drs. Sukamto, pada tahun 1982. Pada tahun 2007, makam ini dipugar kembali atas prakarsa Menteri Peranan Wanita, Min Sugandi. Pemugaran yang terakhir itu menelan biaya kurang lebih Rp 500.000.000. Peresmiannya dilaksanakan pada 23 Juli  2008 oleh Bupati Wonosobo, Drs. Kholiq Arif.

Saat ini luas area makam sekitar 500 m2. Sementara luas bangunan makam sendiri berkisar 120 m2 (lebar 10 m, panjang 12 m). Sedangkan nisan Mbah Selomanik berukuran panjang 1.5 m dan lebar 60 cm.

Keindahan makam yang berada di perkampungan itu berbanding lurus dengan kemudahan akses menuju ke sana. Jalan menuju ke lokasi makam sudah beraspal halus, serta dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat.

Tak mengherankan jika jumlah peziarah makam tersebut terus meningkat. Menurut Khoiruddin, juru kunci makam, kira-kira 11.000 orang menziarahi makam Mbah Selomanik setiap tahunnya.

Para peziarah datang dari berbagai daerah. Dari dalam dan luar Jawa. Bahkan dari luar negeri, Kuwait dan Malaysia. Motif dan niat mereka pun berbeda-beda. Ada yang niatnya silaturahmi dengan Mbah Selomanik. Ada yang mencari berkah. Ada yang mencari keberuntungan. Ada yang ingin dimudahkan rejekinya. Dan lain sebagainya.

Kegiatan yang mereka lakukan selama di makam diantaranya membaca Al-Qur’an, tahlil, mujahadah, serta membaca doa-doa. Tak terkecuali pejabat tinggi negara seperti Jenderal Poniman, Harmoko (Menteri Penerangan era Orde Baru, Suparjo Rustam (Mantan Gubernur Jawa Tengah), dan para Bupati Wonosobo.


Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin

Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin

Gus Dur berjasa Besar dalam menguak misteri keberadaan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin. Sebelum Gus Dur menemukannya pada tahun 1994, status makam antara ada dan tiada. Dikatakan ada, tetapi tak seorang pun tahu di mana letaknya. Dikatakan tiada, makam itu senyatanya ada.

Istilah sufi mengatakan, “Tidaklah seseorang tahu kewalian orang lain kecuali kalau dia sendiri waliyullah”. Hal itulah yang tampaknya mengkondisikan Gus Dur menemukan Makam Syeikh Quthbuddin. Makam itu terletak di Dusun Candirejo, Desa Limbangan, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo.

Dusun Candirejo tidak terlalu jauh dari Kota Wonosobo. Hanya sekitar 5 kilometer. Untuk menuju ke sana dapat ditempuh dengan mobil maupun kendaraan roda dua. Jalan menuju dusun pun cukup bagus. Sudah beraspal meskipun tidak terlalu lebar. Namun ada sebagian jalan desa yang masih berbatu.

Makam Syekh Abdullah Quthbuddin sendiri berada agak jauh dari desa. Lokasinya di tengah areal persawahan, bercampur dengan makam umum warga setempat. Untuk mencapai lokasi makam hanya bisa menggunakan sepeda motor atau jalan kaki.

Bagaimana seorang Gus Dur bisa menemukan makam Syeikh Abdullah Quthbuddin? Begini kisahnya. Tahun 1994 Gus Dur dan rombongan, beserta KH. Chabibullah Idris berburu makam-makam kuna di Wonosobo.

Tim pencari makam kuna berangkat hingga sampai di Dusun Candirejo. Seorang warga memberitakan adanya makam kuna, tetapi tidak diketahui siapa ahli kuburnya. Makam itu berada di tengah sawah. Tidak ada akses jalan ke sana. Hanya jalan galengan.

KH. Chabibullah Idris menuturkan, begitu sampai ke makam itu, mendadak Gus Dur jatuh terduduk. Menyatu dengan arwah dan mengucapkan istighfar seperti tanpa sadar. Mengetahui hal itu, para pengikut Gus Dur segera merubungnya. Ternyata makam kuna yang sebelumnya tidak dikenal, merupakan makam yang selama itu dicari Gus Dur. Itu adalah makam Syeikh Abdullah Quthbuddin.

Sebelum Gus Dur menjelaskan siapa sesungguhnya Syeikh Quthbuddin, tidak ada data sejarah yang mengungkap tabir hidupnya. Gus Dur menjelaskan bahwa Syeikh Quthbuddin berasal dari Iran. Beliau datang ke Nusantara, khususnya ke Wonosobo dengan misi menyebarkan agama Islam.

Sebagai seorang ahli Thoriqoh Naqsyabandiyah, Syeikh Quthbuddin mengajarkan Islam melalui jalan thoriqoh itu. Dan beliau merupakan penyebar pertama Thoriqoh Naqsyabandiyah di Nusantara. Ajaran thoriqoh ini kemudian menyatu dengan tradisi masyarakat Jawa. 

Lebih jauh lagi Gus Dur mengungkapkan bahwa Candirejo merupakan dusun Islam pertama di Jawa, karena diislamkan langsung oleh Syeikh Quthbuddin. Beliau sempat mendirikan pesantren di sini. Tetapi karena tidak memiliki keturunan, pesantren tersebut tidak ada yang melanjutkan. Keberadaan pesantren tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya batu-batu candi yang berada di sekitar makam.

Naunsa keramat hingga saat ini masih dirasakan warga di sekitar makam. Mereka mengaku sering mengalami hal-hal di luar nalar. Misalnya, melihat cahaya hijau yang terbang di sekitar makam. Karena kharisma Syeikh Quthbuddin dan kekeramatan makamnya itu, banyak warga yang datang berziarah. Mereka berasal dari berbagai daerah. Termasuk daerah di luar Wonosobo.

Kondisi makam sekarang ini sudah jauh berbeda dengan saat pertama kali ditemukan. Berlantai keramik dan beratap genting. Lingkungan sekitar makam pun bersih dan tertata rapi. 


Makam Syeikh Abdullah Selomanik (Kalilembu)

Makam Syeikh Abdullah Selomanik (Kalilembu)

Dalam tradisi Jawa, ketinggian lokasi makam seseorang menggambarkan ketinggian kedudukannya. Semakin tinggi lokasi makam, semakin tinggi pula derajat, keilmuan, keturunan, bahkan kedudukannya di hadapan Tuhan. Karena itu, para ulama, raja dan bangsawan Jawa biasanya dimakamkan di kawasan pegunungan, yang letaknya lebih tinggi ketimbang tempat lain di sekitarnya.

Demikian pula dengan makam Syeikh Abdullah Selomanik. Lokasinya menjulang tinggi di atas pegunungan Dieng. Tidak mudah mencapainya. Harus melalui anak tangga yang cukup banyak jumlahnya. Tingginya lokasi makam itu menunjukkan ketinggian kedudukan sang ulama di mata masyarat Islam di daerah ini. Secara administratif, Makam Syeikh Abdullah Selomanik masuk dalam Desa Kalilembu, Kejajar, Wonosobo.

Menurut Kyai Huda, ulama setempat, Syeikh Abdullah Selomanik berasal dari Irak. Beliau datang ke Kejajar atas permintaan sejumlah orang Islam untuk menjaga keseimbangan alam dan mendidik masyarakatnya.

Di sebelah makam yang pernah diziarahi oleh Gus Dur ketika menjabat sebagai Presiden RI itu.  terdapat satu makam lain. Tidak diketahui pasti, makam siapakah itu. Sedangkan di samping kanan dan kirinya adalah pemakaman umum. Di dalam makam terdapat silsilah Keraton Surakarta dan Yogyakarta dari keturunan Brawijaya V.


Makam Syeikh Hasan Toyib dan Hasan Darda'

Makam Syeikh Hasan Toyib dan Hasan Darda'

Makam Syeikh Hasan Toyib dan Syeikh Hasan Darda’ terletak di Dusun Kalibening, Krasak, Mojotengah, Wonosobo. Makam yang berukuran 7x3 m itu terawat dengan baik. Kain putih bersih membungkus nisan makam. Dan di atasnya tergeletak beberapa Kitab Suci Al-Qur’an. Kitab-kitab suci itu sudah kusut. Tampaknya terlalu banyak tangan yang telah menyentuh dan membacanya.

Sebuah karpet membentang di sisi makam. Bersih, meskipun tidak baru lagi. Disediakan untuk para peziarah yang bersimpuh membaca kitab, wirid dan memanjatkan doa-doa. Segera setelah memasuki makam ini, perasaan tenang merasuk ke seluruh tubuh. Mungkin itu pengaruh dari ayat-ayat suci yang dilantunkan para peziarah setiap hari. 

Memang makam ini ramai peziarah. Mulai dari masyarakat awam, pejabat daerah sampai presiden RI sudah datang menziarahinya. Tak mengherankan jika keyakinan masyarakat setempat bahwa Syeikh Hasan Toyib adalah waliyullah semakin kuat.    

Makam Syeikh Hasan Toyib dan Syeikh Hasan Darda’ berada di lokasi yang sama. Syeikh Hasan Toyib adalah ayah mertua Syeikh Hasan Darda’. Menurut H. Hayatudin, cucu dari Syeikh Hasan Darda’, Syeikh Hasan Toyib meninggal tahun 1800-an.


Makam Syeikh Jalaluddin Suyuti (Wadaslintang)

“Harap diperhatikan. Peziarah jangan mengganggu bila melihat burung gemak atau puyuh. Jangan pula takut atau menyakiti harimau atau binatang buas lain yang tiba-tiba muncul. Biarkan saja”. Demikian pesan Juru Kunci Makam Syeikh Jalaluddin Suyuti, Notodiharjo.

Mengapa Notodiharjo memberikan peringatan itu? Tidak ada penjelasan lebih jauh. Dia hanya menuturkan bahwa Syeikh Jalaluddin Suyuti merupakan ulama dari Irak. Beliau menghabiskan usianya untuk mengajarkan agama Islam di Kebumen. Tetapi meninggal dunia di Lancar, Wadaslintang, pada tahun 1518 M. Beliau lalu dikebumikan di Dusun Kalianget, Desa Lancar, Wadaslintang, Wonosobo.

Perjuangan Syeikh Jalaluddin Suyuti bermula ketika Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya. Beliau diutus oleh Raden Fatah untuk mengislamkan masyarakat Kedu. Beliau menetap di kampung Bojongsari, Krajan, Bandung, Kebumen. Daerah ini berbatasan dengan Desa lancar , Wadaslintang.

Mengenai makam yang sekarang diyakini sebagai pusara Syeikh Jalaluddin Suyuti, mula-mula masyarakat tidak mengetahuinya. Mereka tidak tahu di sana bersemayam seorang ulama yang berjasa besar mengislamkan penduduk sekitar. Hingga kemudin para kyai setempat menunjukkan bahwa itu adalah makam Syeikh Jalaluddin Suyuti.

Sejak saat itu, masyarakat menjaga dan merawat makam. Membersihkan dan mendirikan di atasnya bangunan yang layak. Pada tahun 1991, mereka secara swadaya merenovasi makam hingga bentuknya seperti sekarang ini. Sederhana tapi apik.

Menurut Notodiharjo, pernah suatu ketika kyai-kyai Kebumen keturunan Syeikh Jalaluddin Suyuti mencoba mengganti kain tirai makam. Sudah disiapkan kelambu yang lebih bagus. Tetapi mendadak yang bertugas matanya kabur. Dicoba lagi. Tiba-tiba hujan turun sangat lebat disertai angin kencang dan banjir. Kyai itu bahkan merasa ditendang.

Untuk memperingati Syeikh Jalaluddin Suyuti yang keramat itu, setiap tahun masyarakat mengadakan haul di lokasi makam. Peziarah pun ramai. Mereka datang dari berbagai daerah. Salah satu peziarah yang senantiasa diingat penduduk setempat adalah Presiden RI ke 4, Gus Dur.

Meski ramai peziarah, akses menuju makam belum lah memadai. Jalan menuju makam belum beraspal. Bahkan petunjuk yang memandu ke lokasi makam pun masih terbatas. Hanya ada plang kecil di pinggir jalan Desa Lancar yang bertuliskan makam Syeikh Jalaluddin Suyuti.


Makam Syeikh Termidzi

Syeikh Termidzi adalah nama Arabnya. Nama Jawanya Singo Truno. Ia dikenal sebagai orang yang sakti. Suatu ketika terjadi longsor. Dan masyarakat tahu bahwa Syeikh Termidzi berada di bawah tanah yang longsor itu.

Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi sesaat kemudian, Syeikh Termidzi sudah berdiri di belakang mereka dan mengajak membersihkan tanah longsoran.

Tidak ada data sejarah yang mengungkap sosok Syeikh Termizdi atau Singo Truno ini. Bahkan penduduk setempat percaya bahwa jasad beliau tidak di lokasi makam yang ada sekarang. Itu hanyalah petilasan berupa tongkat yang ditinggalkannya. Ada pula yang percaya kalau Syeikh Termidzi masih hidup sampai saat ini.

Makam Syeikh Termidzi yang ada sekarang berlokasi di Dusun Purbosono, Desa Purbosono, Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Kondisi bangunan makam sangat baik. Berlantai keramik dan beratapkan genting. Uniknya, makam itu berada di bawah akar pohon besar yang berumur ratusan tahun.

Juru Kunci makam, Roni, menyarankan kepada para peziarah untuk membawa makanan kesukaan Syeikh Termidzi. Pisang emas misalnya. Jika itu dilakukan, maka diyakini akan mendatangkan kebaikan bagi yang bersangkutan.

Cukup banyak jumlah peziarah ke makam ini. Mereka terdiri dari masyarakat awam, santri, pengusaha, dan pejabat tinggi negara.


Makam Tumenggung Jogonegoro

Makam Tumenggung Jogonegoro

Keberadaan Wonosobo tak dapat dilepaskan dari peran Keraton Yogyakarta. Data historis yang mengungkapkan fakta itu di antaranya adalah makam para tokoh sejarah. Salah satunya Makam Tumenggung Jogonegoro yang terletak di Dusun Pakuncen, Desa Pakuncen, Selomerto.

Tumenggung Jogonegoro diyakini lahir pada hari Minggu Wage, 4 Agustus 1675. Beliau memiliki hubungan kekeluargaan dengan Keraton Yogyakarta. Mula-mula ia menjabat sebagai kepala prajurit dengan nama Ng. Singowedono. Kemudian menduduki jabatan Bupati Kerajaan Mataram dengan gelar Raden Tumenggung Jogonegoro.

Pada waktu perang Diponegoro meletus, Tumenggung Jogonegoro bergerak dan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dan melakukan siasat perang gerilya. Dalam perang ini, sampailah Tumenggung Jogonegoro dan prajuritnya di daerah Plabongan. Plabongan menjadi ibu kota Kabupaten Wonosobo. Pada waktu itu dikenal sebagai Wonosobo Plabongan. Di tempat inilah Tumenggung Jogonegoro bertahan hingga mangkatnya.

Pada periode ini, Sang Tumenggung mulai aktif menyebarkan Islam di Magelang, Banyumas, Kebumen dan Wonosobo. Dalam melaksanakan tugas itu, beliau dikawal Gusti Guntur Geni.

Sampai sekarang Tumenggung Jogonegoro dikenal sebagai tokoh yang sakti dan mempunyai daya linuwih. Karenanya, banyak masyarakat Wonosobo yang masih mengkeramatkan beliau. Namanya sering disebut dalam berbagai acara keagamaan seperti mujadahan. Mujahadah biasanya digelar pada hari Kamis Wage, Jumat Kliwon, Senin Wage, dan Selasa Kliwon.

Menurut juru kunci makam, Muhammad Sholeh, jumlah peziarah makam mencapai 15.000 orang per tahunnya. Mereka berasal dari berbagai daerah. Dalam dan luar Jawa.

Ghalibnya, para peziarah itu bertawassul dengan melakukan riyadhoh, mujahadah, membaca Yasin, tahlil dan membaca doa-doa. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh masyarakat setempat setiap selapan dina (tiap 40 hari) pada hari Kamis sore.

Terdapat aturan tak tertulis ketika para peziarah berada di makam. Hendaknya mereka melepas alas kaki dan topi. Tidak membelakangi makam. Juga tidak melakukan tindakan-tindakan yang buruk maupun tidak sopan. Siapa pun yang melanggar aturan itu, diyakini akan tertimpa “bebendu”.


Sunan Bunder

Tidak banyak yang tahu siapa itu Sunan Bunder. Sejarah tak pernah mencatat namanya. Juga nama aslinya. Bahkan masyarakat sekitar makam pun belum tahu pasti latar belakang hidup dan perjuangannya. Akan tetapi, ada teori yang mengatakan bahwa besarnya jasa seseorang dapat dilihat dari kuatnya ingatan kolektif masyarakat terhadap orang itu. Tampaknya, teori tersebut cukup memadai untuk menjelaskan seberapa besar jasa dan ketokohan Sunan Bunder di tengah masyarakat.

Ingatan kolektif masyarakat kepada sang Sunan ditandai dengan nama desa Sibunderan. Kata “sibunderan” itu diambil dari namanya, Bunder. Nah, dengan menyebut nama desa Sibunderan, ingatan kolektif masyarakat juga kembali kepada nama Sang Sunan. Jadilah beliau sosok yang dikenang, meskipun mungkin tidak dikenal.

Kini yang tersisa dari Sunan Bunder hanyalah makam. Makam itu berukuran kurang lebih 10 meter persegi. Terletak persis di belakang Masjid Sunan Bayat. Bentuk fisiknya sederhana. Tetapi di balik itu, berkembang mitos yang dipercaya masyarakat akan kebenarannya.

Konon, di atas makam terdapat kuncup yang tidak bisa dilihat oleh mata orang biasa. Hanya orang tertentu yang mampu melihatnya. Dipercaya, kuncup itu melindungi makam dari air hujan. Sehingga, tanah makam tak pernah tersentuh derasnya hujan. Masyarakat juga percaya, jika ada sepasang kekasih berziarah ke makam itu dengan niat minta restu menuju ke pelaminan, niat tersebut bakal terwujud dengan izin Allah Swt. 

Seorang tokoh tempatan, Kyai Huda, menuturkan bahwa Makam Sunan Bunder sudah ada sejak tahun 1300 M. Selain Sunan Bunder, ada pula ulama yang disemayamkan di makam tersebut, yaitu   KH. Bishri. Ulama khos ini konon masih keturunan Sunan Bunder.