Hakikat Manusia! Agar Diri Tidak Sombong

HAKEKAT MANUSIA


Suatu ketika al-Muhallab, salah satu penguasa daerah Khurasan, yang berjalan congkak melewati Malik bin Dinar. 

Hakikat Manusia! Agar Diri Tidak Sombong



Malik bin Dinar menegur:
"Tidakkah kau tahu bahwa berjalan dengan congkak adalah gaya berjalan yang Allah benci kecuali sesaat sebelum pertempuran dengan orang kafir dimulai".

Respon al-Muhallab:
"Tidakkah kau kenal siapa aku? ".
Jawaban berkesan disampaikan oleh Malik bin Dinar
بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ وَأَنْتَ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ عَذِرَةٌ
Aku kenal siapa dirimu. Awalnya engkau adalah air mani yang baunya tidak sedap. Pada akhirnya engkau akan jadi bangkai yang busuk. Selama engkau hidup kemana mana engkau membawa kotoran di perutmu.

Al-Muhallab tersentuh dengan nasehat ini. 
Beliau lantas berkomentar:
"Pada saat ini aku benar-benar mengenal diriku sendiri".
(Siyar A'lam an-Nubala' 5/362)

Sombong itu terlarang dalam semua hal baik sombong dalam cara berbicara, cara berjalan, cara berkendara dll. Meski seseorang itu hebat dan terkenal tidak selayaknya berkata kepada orang lain "Tidakkah kau tahu siapa diriku" karena ini adalah ucapan penuh nuansa kesombongan.

Hakekat manusia adalah berawal dari air mani yang berbau tidak sedap dan menjijikkan. Kehidupan manusia diakhiri dengan menjadi bangkai yang busuk. Semua yang mencintai sepenuh hati pun tidak lagi mau membersamai bangkai busuk ini. Selama hidup meski dia wanita cantik rupawan atau lelaki gagah ganteng ke mana-mana membawa kotoran di perut. 

Bahkan wajah yang merupakan pusat kecantikan atau kegantengan adalah produsen berbagai kotoran. Mata memproduksi kotoran. Hidung juga memproduksi materi menjijikkan. Kotoran telinga pun tidak kalah menjijikkan. Ketika lelap tidur mulut pun mengeluarkan cairan menjijikkan. 

Jika demikian hakekat manusia layakkah manusia menyombongkan diri kepada sesama manusia karena harta, pangkat dll. Manusia yang mengerti betul hakekat dirinya akan tawadhu kepada Allah dan kepala sesama manusia. 

Tawadhu kepada Allah dengan menerima sepenuh hati semua yang berasal dari Allahdan rasul Nya. Tawadhu kepada manusia dengan tidak merasa lebih unggul dan lebih baik dari pada orang lain.

(Dikutip dari tulisan Ustadz Aris Munandar). Wallahu A'lam bish Shawwab.