Silsilah dan Sejarah Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo

Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo dilahirkan di Kampung Ledok (Ciledok) Kabupaten Wonosobo pada tahun 1562 M. Menurut riwayat, beliau adalah keturunan ke 32 dari Baginda Rosulullah Muhammad saw.

Silsilah dan Sejarah Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo

Silsilah Mbah Ngalim Basaiban

  1. Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban, ibni
  2. R. Singosuto, Mojosari Mojotengah Wonosobo, ibni
  3. R. Alim Marsitojoyo, Mojosari Mojotengah Wonosobo, ibni
  4. R. Martogati, Wonokromo Mojotengah Wonosobo, ibni
  5. R. Dalem Agung / RA. Nyai Dalem Agung, Mojosari Mojotengah Wonosobo, ibni
  6. R.A Nyai / R. Kyai Dilem Bandok, Wonokromo Mojotengah Wonosobo, ibni
  7. R.A Nyai Bekel Karangkobar Banjarnegara, ibni
  8. R.A Nyai Segati / Pangeran Bayat, Tegalsari Garung Wonosobo, ibni
  9. Sunan Kudus, ibni
  10. Syarifah ( istri Sunan Ngudung ), ibni
  11. Sunan Ampel, ibni
  12. Maulana Malik Ibrahim, ibni
  13. Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang, ibni
  14. Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan ), ibni
  15. Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
  16. Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
  17. Alwi Ammi al - Faqih, ibni
  18. Muhammad Shahib Mirbath, ibni
  19. Ali Khali' Qasam, ibni
  20. Alwi ats - Tsani, ibni
  21. Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
  22. Alwi Awwal, ibni
  23. Ubaidullah, ibni
  24. Ahmad al - Muhajir, ibni
  25. Isa ar - Rummi, ibni
  26. Muhammad al - Naqib, ibni
  27. Ali al - Uraidhi, ibni
  28. Ja'far ash - Shadiq, ibni
  29. Muhammad al - Baqir, ibni
  30. Ali Zainal Abidin, ibni
  31. Husein, ibni
  32. Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni
  33. Rosulullah Muhammad S. A. W


Kisah Masa Muda Mbah Ngalim Basaiban

Saat muda, Beliau pergi menuntut ilmu ke Pekalongan. Beliau mengaji pada ulama besar di sana sampai beberapa lama, kemudian meneruskan menuntut ilmu di Mekah dalam waktu yang cukup lama pula hingga Beliau menjadi seorang ulama besar. Di Mekah Sayyid Ahmad Muhammad Alim mempelajari Tarekat Satariyah. Sepulang dari Mekah, Beliau kemudian menetap di kampung Krapyak, kota Pekalongan bagian utara, menggantikan gurunya sampai beliau menikah dan mempunyai keturunan di sana.


Keturunannya hingga sekarang banyak yang disebut Basaiban seperti : Sayyid / Habib Abu Tholib, Sayyid / Habib Toha dan lain – lain. Ada juga keturunan Beliau yang menjadi Bupati Magelang yakni R. Tumenggung Danu Sugondo, dimana adiknya juga menjadi bupati Purworejo yakni R. Tumenggung Chasan Danuningrat.


Atas permintaan para murid yang berasal dari Wonosobo, Beliau kemudian pindah ke Wonosobo. Pertama kali bermukim adalah di desa Cekelan kecamatan Kepil. Di sana beliau mendirikan pondok pesantren dan masjid yang hingga sekarang masih ada dan berkembang pesat. Pembuatannya dibantu olehbesan Beliau yang bernama R. Tumenggung Bawad ( pensiunan ) pembesar dari Kraton Yogyakarta yang bernama Wiradhaha / ayah Kyai Tolabudin ( makam di Blimbing Bruno Purworejo ) dibantu juga oleh Kyai Karangmalang ( ayah Kyai Imam Puro ) yang telah mengangkat saudara. Dikisahkan mereka membawa pohon Aren dan Pohon jambe / Pinang. Dari desa Cekelan, Beliau kemudian pindah ke desa Gunung Tawang, kecamatan Selomerto Wonosobo . Di sana pun Sayyid Ahmad Muhammad Alim mendirikan pondok dan masjid.


Setelah bermukim di desa Gunung Tawang, beliau pindah ke arah utara, sampai di dekat dukuh Kendal Mangkang, petilasan Kyai Ageng Gribig dari Klaten Surakarta sewaktu membuat pertahanan saat memerangi Belanda di Batavia ( Jakarta ). Dari tempat tersebut, beliau pindah ke arah timur sampai di Candiroto, akan tetapi tidak dikisahkan hal pendirian masjid dan pondok di sana. Perpindahan selanjutnya adalah di desa Traji, yang berada di sebelah utara Parakan Temanggung, dekat desa Mandensari. Di sana didirikan pula pondok yang sampai sekarang masih ada. Dari desa Traji, Sayyid Ahmad Muhammad Alim bermukim sebentar di desa Bulu, Salaman Magelang. Di sana didirikan pula pondok dengan dibantu oleh Kyai Muhyi Bulu. Pesantren tersebut hingga sekarang pun masih. Rute perpindahan selanjutnya adalah di desa Paguan Kaliboto Purworejo, dan seperti yang sudah – sudah, di sana pun didirikan pondok yang hingga kini pesantren itu masih. Dari Kaliboto, atas permintaan salah seorang murid setianya yakni seorang mantri polisi Beliau pindah ke Pancalan dan mendirikan pesantren sehingga daerah itu menjadi aman. Pondok pesantren tersebut hingga sekarang masih, kemudian Beliau pindah ke desa Nglegok Baledono Purworejo, mendiami bekas pondok Kyai Asnawi ( R. Tumenggung Djoyomenduro, putra kyai Syamsyiah Pengulu Landrat/ Ketua Pengadilan Negeri jaman kejawen yang makamnya terletak di Pangenjurutengah ). Kyai Asnawi mempunyai banyak pondok pesantren.


Dari Baledono, Sayyid Ahmad Muhammad Alim pindah ke Kali Kepuh Beji. Masjid digotong oleh para santri yang jumlahnya sangat banyak. Perpindahan ke Kali Kepuh beji pada awalnya atas perintah Bupati Purworejo yang pertama pada jaman Belanda yang bernama Raden Mas Cokrojoyo, dikarenakan ketakutan Belanda akan adanya penyerangan sewaktu – waktu yang akan dilakukan oleh Sayyid Ahmad Muhammad Alim dan para santrinya. Begitu juga dengan perpindahan Beliau ke Bulus yang merupakan perintah dari Bupati, yang tujuan sebenarnya adalah agar Sayyid Ahmad Muhammad Alim mati dimangsa Brekasakan Hutan ( sejenis hewan dan mahluk halus ), lelembut, harimau, celeng / babi hutan dan warak ( sejenis badak ), sebab di sana terdapat sebuah beji ( semacam mata air ) yang di dalamnya terdapat sepasang bulus ( sejenis kura – kura ) berwarna putih yang merupakan mahluk halus. Maka daerah Bulus saat itu terkenal dengan sebutan Jalma Mara Jalma Mati yang artinya manusia mendekat, manusia mati. Sayyid Ahmad Muhammad Alim tetap selamat dan bahkan kemudian tempat tersebut menjadi desa yang makmur dan pesantrennya berkembang pesat hingga menyebar menjadi cikal bakal lahirnya pesantren – pesantren yang ada di Purworejo dan sekitarnya. Bulus yang tadinya hutan yang sangat angker beliau ubah menjadi desa yang makmur bersama para muridnya yang berasal dari berbagai daerah antara lain dari Pekalongan, Semarang, Salatiga, Magelang dan lain – lain. Jumlah murid Beliau lebih dari seribu orang. Sayyid Ahmad Muhammad alim mengajarkan tarekat Satariyah. Setelah mengaji, para murid ada yang diperintahkan untuk bekerja membuka hutan, ada yang diperintahkan membuat tempat tinggal ada juga yang bekerja seperti biasanya. Murid – murid yang berasal dari Pekalongan bekerja membuat sinjang ( jarit / kain ), sehingga kemudian daerah Bulus pada waktu itu terkenal dengan sebutan daerah Bang – bangan sinjang ( penghasil jarit / kain ). Mereka yang berasal dari Banjarmasin bekerja membuat aneka perhiasan dari emas dan ada juga yang bekerja sebagai tukang jam.


Laku Spiritual Mbah Ngalim Basaiban

Sayyid Ahmad Muhammad Alim sering malakukan tirakat puasa mutih, sering tidak makan. Beliau hanya makan sekali dalam sehari. Pakaian yang dikenakan berwarna putih, sering juga mengenakan pakaian berwarna gadung ( hijau ). Ikat pinggangnya terbuat dari pelepah pisang. Apabila mencuci, Sayyid Muhammad Alim menggunakan pace ( mengkudu ) matang sebagai sabunnya. Beliau tidak pernah merokok, melainkan ngganten ( mengunyah sirih ). Postur tubuhnya besar dan tinggi melebihi postur orang yang tinggi besar pada umumnya. Suaranya besar dan hati serta pikirannya legawa / bersahaja.


Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu melakukan sholat sunnah sehari semalam sebanyak 35 rokaat. Ketika Sholat Awabin sampai 20 rokaat. Sebelum tidur, seusai membaca wirid, beliau selalu bersahadat 3 kali, memohon ampun pada Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu memintakan dan mendoakan agar para keturunannya juga murid – muridnya bisa menjadi orang yang soleh. Beliau juga menjalankan tapa pendhem 40 hari 40 malam, seperti layaknya jenazah yang dikubur, hanya pada bagian atas tepat di bagian kepala diberi sebilah bambu sebagai jalan nafas saat di dalam kubur. Ditengah – tengah lubang tersebut diberi benang yang digunakan untuk isyarat bahwa Beliau masih hidup. Setiap sore benang ditarik yang menandakan bahwa Sayyid masih hidup di dalam kubur. Menurut riwayat, di dalam tapa pendhemnya, Sayyid Ahmad Muhammad Alim mendapatkan isyarat gaib seperti berikut.


Beliau diperintahkan untuk memilih salah satu dari 3 bendera. Bendera tersebut berwarna putih, hijau dan merah. Ada suara gaib yang kemudian memerintahkan untuk memeilih salah satu. Pilihen Kyai ( pilihlah Kyai ) ?. Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim kemudian memilih bendera yang berwarna putih. Setelah memilih salah satu, kemudian suara gaib itu menerangkan sebagai berikut.


Bahwa putih tadi perlambang amal soleh: hijau perlambang materi keduniawian sedangkan merah perlambang dari kekuatan fisik.


Sehingga amanah Beliau untuk semua anak turunnya seperti berikut.


“ Anak turunku ora usah tirakat, asal gelem mantep anggone ngaji, bakal diparingi dadi wong mulya dunya tekan akherat.” ( anak turunku tidak perlu tirakat, asal mantap mengaji akan menjadi orang mulya dunia dan akherat ).


Sayyid Ahmad Muhammad Alim Ahli Nahwu, Fiqih dan Tafsir. Tiap malam sering dijaga oleh harimau singga 5 ekor. Sering juga dijaga oleh Warak ( sejenis badak ). sehingga rumah dan tanaman Beliau menjadi aman. Di mana tempat yang dianggap angker oleh masyarakat umum, apabila telah ditempati oleh Beliau menjadi aman.Orang yang jahat sekali pun apabila telah bertemu dengan beliau, maka akan menjadi orang soleh. Maka banyak yang menjadi pengikut kemana pun Beliau pindah karena tidak bisa berpisah dengan Sayyid Ahmad Muhammad Alim.


Sayyid Ahmad Muhammad Alim sering juga menghilang, terutama malam Jumat, akan tetapi di dalam masjid terdengar ada suara bergema jamaah dzikir Satariyah, yang dijaga pula oleh brekasakan hutan.


Setengah riwayat diceritakan bahwa suara dzikir tersebut hingga sekarang masih terdengar saat malam Jumat di makam Beliau. Ada yang bisa melihat, berujud haji sejumlah 40 orang yang rupawan. Untuk melihatnya harus dengan menjalankan sholat sunah dan membaca surat Yaasin terlebih dahulu.


Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu menyiarkan Islam, hingga menyebar di seluruh Purworejo hingga adanya pesantren di Loning, Pancalan, Tirip, Maron dan lainnya.


Tarekat Satariyah setelah Sayyid Ahmad Muhammad Alim wafat diteruskan oleh Kyai Guru Loning Mukhidinirofingi dan Kyai Muhammad Alim Maron. Kyai Muhammad Alim Maron juga pernah ditangkap Belanda sebab menjalankan tarekat Satariyah, karena dicurigai akan seperti Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim.


Sayyid Ahmad Muhammad Alim mempunyai badal 2 orang yakni :

  1. Ngumar
  2. Haji Toha


Akan tetapi setelah wafatnya Sayyid Ahmad Muhammad Alim, Haji Toha kemudian pergi ke Kelang Singapura, dan mungkin mengajarkan Tarekat Satariyah di sana. Para murid juga banyak yang pulang keasalnya masing – masing setelah Beliau wafat, sehingga Bulus pada waktu itu kosong hingga 3 tahunan.


Atas pertolongan Yang Maha Kuasa, ada seorang yang bernama Raden Mas Cokrojoyo ( bupati Purworejo yang pertama ) memerintahkan kepada Ulama yang bertempat tinggal di kampung Madiyokusuman Purworejo bernama R. Syarif Ali untuk menempati daerah Bulus. Keturunannya hingga saat ini masih. Tanah pesantren kemudian diwakafkan kepada yang memimpin di situ untuk meneruskan.



Masa Perjuangan Mbah Ngalim Basaiban

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus berjiwa pejuang. Pada waktu Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma Mataram memerangi Belanda di Batavia ( Jakarta ), yang memberangkatkan Kyai Ageng Gribig Klaten Surakarta, Kyai Sayyid Muhammad Alim menyerahkan para murid pemudanya untuk dijadikan prajurit, yang dipimpin oleh Kyai Ageng Gribig.


Jaman Pangeran Diponegoro ( R.M. Ontowiryo ), Beliau juga dengan sangat halus tanpa diketahui Belanda menyerahkan para santri mudanya untuk dijadikan prajurit. Agar tidak diketahui Belanda, maka Beliau berpindah – pindah tempat. Murid – murid diserahkan pada pertahanan Magelang dan Bagelen, yang dipimpin oleh R. Tumenggung Djoyomustopo yang makamnya di Sindurejan., juga pada R. Syamsyiah ( Pengulu Landrat Pangenjurutengah ).


Riwayat Setelah Perang Berhenti

Sayyid Ahmad Ahmad Muhammad Alim Basaiban masih meneruskan perjuangannya. Setelah Belanda menguasai negara ini hukum yang berlaku adalah sebagai berikut.

1. Orang yang ditangkap kemudian dihukum dengan disalib dan dijemur di terik matahari, kemudian dicor timah panas hingga mati (seperti yang terjadi di Kedung Lo, sebelah barat Tanggung Purworejo)

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban kemudian mengajukan tuntutan agar hukuman itu diubah. Tuntutan tersebut diterima Belanda. Hukuman kemudian berubah menjadi

2. Hukuman Picis di Bong Cina

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban kemudian kembali mengajukan tuntutan agar hukuman itu diubah. Tuntutan tersebut diterima Belanda. Hukuman kemudian berubah menjadi

3. Hukuman Gantung


Semua tuntutannya dibantu oleh Kyai Guru Loning Mukhidinirofingi. Apabila akan mengajukan tuntutan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu mengunyah sirih terlebih dahulu, kemudian berpakaian putih atau hijau, kemudian ditandu sebab usianya yang sangat tua. Belanda menganggap Beliau sebagai Pimpinan Pengadilan.


Diceritakan bahwa Kyai Sayyid Muhammad Alim berpindah – pindah hingga28 tempat. Usia Beliau mencapai 280 tahun. Sayyid Ahmad Muhammad Alim wafat pada hari Jumat Pahing tanggal 1 Jumadilakhir tahun B 1262 Hijriyah/1842 Masehi. Beliau dimakamkan di sebelah barat pengimaman masjid Bulus.


Peringatan Haul Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus dilakukan rutin setiap tahun di Bulus Purworejo oleh seluruh anak turunnya.


Keturunan Mbah Ngalim Basaiban

  1. Garwa Kalibening Wonosobo peputra :
    • Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan Kaliboto Purworejo
    • Sayyidah Nyai Khasanadi Munggang Kreteg Wonosobo
    • Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu Salaman Magelang
    • Kyai Sayyid Mualim Pancalan Loano Purworejo
  2. Garwa Banyuurip Purworejo peputra :
    • Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen Purworejo
    • Sayyidah Nyai Zaenul Ngalim Greges Tembarak Temanggung
  3. Garwa Kedung Dowo peputra :
    • Kyai Sayyid Muhammad Alim Loano Purworejo
    • Kyai Sayyid Muhammad Zein Solotiyang Purworejo

Sayyidah Nyai Tolabudin

Sayyidah Nyai Tolabudin peputra :

  1. Kyai Sayyid Taslim Tirip Gebang Purworejo
  2. Kyai Sayyid Ahmad Husen Paguan Kaloboto Purworejo


Nyai Khasanadi Munggang

Nyai Khasanadi Munggang ( Nyai Gentong ), dados garwanipun Kyai Ngali Markhamah Bendosari Sapuran Wonosobo ananging mboten kapanjang, lajeng kagarwa dening Kyai Chasanadi lan peputra :

  1. Sayyidah Nyai Murdaqoh Krakal Kreteg Wonosobo
  2. Sayyidah Nyai Pencil Kreteng Wonosobo


Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu

Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu Salaman peputra ( saking garwa I ) :

  1. Kyai Sayyid Bughowi Ngentos Muntilan Magelang
  2. Kyai Sayyid Imron Krumpakan Kajoran Magelang
  3. Kyai Sayyid Ngabdul Jalil Bulu Salaman Magelang
  4. Sayyidah Nyai Chayat Bulu Salaman Magelang
  5. Sayyidah Nyai Ngabdullah Bulu Salaman Magelang
  6. Kyai Sayyid Ngabdul Ngalim Bulu Salaman Magelang
  7. Sayyidah Nyai Ngabdul Kodir Kedung Lumpang Salaman Magelang


Saking Garwa Putri Patih Dipodirjo Purworejo peputra :

  1. Sayyidah Nyai Ngabdullah Solotiyang Loano Purworejo
  2. Sayyidah Nyai Syekh Yusuf Solotiyang Loano Purworejo
  3. Kyai Sayyid Jakfar Naib Banyuasin Loano Purworejo


Kyai Sayyid Mualim

Kyai Sayyid Mualim Pancalan peputra :

  1. Sayyid Imam Jaed Jagir Bruno Purworejo
  2. Kyai Sayyid Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung
  3. Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Gintung Gebang Purworejo
  4. Sayyid R. Ng. Joyodirjo Salamkanci Bandongan Magelang
  5. Sayyid Haji Dachlan Greges Tembarak Temanggung
  6. Sayyidah Nyai Muhammad Rustam Pancalan Loano Purworejo
  7. Sayyidah Nyai Ngabdulmanan Pancalan Loano Purworejo
  8. Sayyidah Nyai Tumpak Terasan Bandongan Magelang


Kyai Sayyid Rofingi

Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen peputra :

  1. Sayyidah Nyai Syuhadak Purwodadi Banjarnegara
  2. Kyai Sayyid Ahmad Junus Bulus
  3. Kyai Sayyid Batang Pekalongan
  4. Ayah Kyai Sayyid Dachlan Sorogenen Purworejo


Sayyidah Nyai Zainul Ngalim

Sayyidah Nyai Zainul Ngalim Greges tembarak Temanggung peputra : 

  1. Sayyidah RA. Nyai Ngabdul Chalim Greges Tembarak Temanggung 
  2. Sayyidah RA. Nyai Ngabdullah Faqih Wonosobo 
  3. Sayidah RA. Nyai Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung 


Kyai Sayyid Muhammad Alim

Kyai Sayyid Muhammad Alim Maron peputra :

  1. Kyai Sayyid Belah Kedungwot ( Ambal Pucang ) Kebumen
  2. Kyai Sayyid Ngusman Gambasan Tembarak Temanggung
  3. Kyai Sayyid Ngabdullah Cekelan Tembarak Temanggung
  4. Sayyidah Nyai Juwar Maron
  5. Kyai Sayyid Ahmad Maron ( wafat muda )
  6. Kyai Sayyid Ridwan Maron ( wafat muda )
  7. Kyai Sayyid Siroj Maron
  8. Kyai Sayyid Nawawi Cacaban Kaliboto Purworejo
  9. Sayyidah Nyai Sayuti Tegalarung Parakan Temanggung
  10. Sayyidah Nyai Maimun ( Sabilan ) Bulus Gebang Purworejo
  11. Sayyidah Nyai Chotimah ( Kyai Bakri ) Kalongan Loano Purworejo
  12. Kyai Sayyid Ngadnan Parakan Temanggung


Kyai Sayyid Zein

Kyai Sayyid Zein (Zain Al Alim) Solotiyang peputra :

  1. Sayyidah Nyai Haji Ngali Pabean Muntilan Magelang
  2. Sayyidah Nyai Suchemi Pangenjurutengah Purworejo
  3. Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Sutoragan Kemiri Purworejo
  4. Sayyidah Nyai Kalisuren Kreteg Wonosobo
  5. Sayyidah Nyai Ngabdul Majid I Grabag Magelang
  6. Sayyidah Nyai Ngabdul Majid II Grabag Magelang
  7. Kyai Sayyid Daldiri Solotiyang ( wafat muda )
  8. Kyai Sayyid Fadil Solotiyang Loano Purworejo
  9. Sayyidah Nyai Badar Solotiyang Loano Purworejo