Indonesia Website Awards

Biografi Imam Ibnu Hajar al Asqalani - Ahli Hadis Pengarang Kitab Fathul Bari

Biografi Imam Ibnu Hajar al Asqalani - Ahli Hadis Pengarang Kitab Fathul Bari
Foto : PeciHitam.org

Biografi Singkat

Nama lengkap Ibnn Hajar al ‘Asqalani adalah al Imam al ‘Allamah al Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Beliau lahir di Mesir pada tanggal 12 Sya’ban 773 H, yang bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1372 M. Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun. Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al Mishri. Beliau hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Pada usia 11 tahun, ia berangkat haji bersama pengasuhnya, yaitu sekitar tahun 784 H.

Perjalanan Ilmiah

Perjalanan ilmiah Ibnu Hajar sangatlah panjang. Walaupun beliau yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan perjalanan ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:

Pertama, di dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki Rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.

Kedua, di Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu ‘Asakir Rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al Bulqini.

Ketiga, di Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.

Keempat, di Shana’ dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.

Guru Ibnu Hajar al ‘Asqalani

Guru-guru Ibnu Hajar al ‘Asqalani sangatlah banyak, dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. yaitu, seperti: ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari), al-Makki ( 790 H), Muhammad bin ‘Abdullah bin Zhahirah al-Makki (717 H), Abul Hasan al-Haitsami (807 H), Ibnul Mulaqqin (804 H), Sirajuddin al-Bulqini Rahimahullah (wafat 805 H), Abul-Fadhl al-‘Iraqi (806 H), ‘Abdurrahim bin Razin Rahimahullah, al-‘Izz bin Jama’ah Rahimahullah, al-Hummam al-Khawarizmi Rahimahullah. Dalam mengambil ilmu-ilmu bahasa arab, Ibnu Hajar belajar kepada al-Fairuz Abadi Rahimahullah, Ahmad bin Abdurrahman Rahimahullah. Untuk masalah Qira’atussab’, beliau belajar kepada al-Burhan at-Tanukhi Rahimahullah, dan lain-lain, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fiqih dan hadits.

Murid Ibnu Hajar al ‘Asqalani

Murid-murid Ibnu Hajar datang dari berbagai penjuru, sehingga banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah murid-murid beliau. Dianaranya, Imam ash-shakhawi (902 H), al-Biqa’i (885 H), Zakaria al-Anshari (926 H), Ibnu Qadhi Syuhbah (874 H), Ibnu Taghri Burdi (874 H), Ibnu Fahd al-Makki (871 H), al-Kamal bin Hamam (861 H), Abu al-Fadhal bin Syahnah (890 H), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Wafat Ibnu Hajar al ‘Asqalani

Ibnu Hajar wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H, yang bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1449 M di Mesir, setelah kehidupannya dipenuhi dengan ilmu nafi’ (yang bermanfaat) dan amal shalih. Beliau dimakamkan di Qarafah ash-Shugra.

Hasil Karya

Ibnu Hajar memulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekti ajalnya. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Bahkan menurut Imam asy-Syakhawi dalam kitabnya Al-Jawhar wa Ad-Durar menyebutkan karya Ibnu Hajar mencapai lebih dari 270 kitab. As-Suyuthi dalam kitabnya Nazham Al-Uqyan menyebutkan karangannya berjumlah 198 kitab. Al-Baqa’ mengatakan karangannya berjumlah 142 dan Haji Khalifah dalam kitabnya Kasyfu Azh-Zhunun mengatakan, bahwa karangannya berjumlah 100 kitab.
Berikut adalah sebagian dari karya Ibnu Hajar :
  1. Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
  2. An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
  3. Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
  4. Taghliq At-Ta’liq.
  5. At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
  6. Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
  7. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
  8. Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
  9. Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
  10. Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
  11. Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
  12. Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
  13. Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr.
  14. Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu As-Shalah.
  15. Hadyu As-Sari Muqqadimah Fath Al-Bari.
  16. Tabshir Al-Muntabash bi Tahrir Al-Musytabah.
  17. Ta’jil Al-Manfaah bi Zawaid Rijal Al-Aimmah Al-Arba’ah.
  18. Taqrib At-Tahdzib.
  19. Tahdzib At-Tahdzib.
  20. Lisan Al-Mizan.
  21. Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
  22. Inba’ Al-Ghamar bi Inba’ Al-Umur.
  23. Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Miah Ats-Tsaminah.
  24. Raf’ul Ishri ‘an Qudhat Mishra.
  25. Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.
  26. Quwwatul Hujjaj fi Umum Al-Maghfirah Al-Hujjaj.

Di antara karya beliau yang terkenal ialah, dalam bidang ‘Ulum Al-Qur’an, beliau menulis Asbab an-Nuzul, Al-Itqan fi jam’ Ahadits Fadha’I Al-Qur’an, Ma fi Waqa’a Al-Qur’an Min Ghayr Lughat an-Nazhar. Dalam bidang ‘Ulum Al-Hadits, beliau menulis Nukhbat al-Fikr, Nuzhat an-Nazhar an-Nukat. Dalam bidang Fiqih, beliau menulis Bulugh al-Maram. Dalam bidang Syarah Hadits, beliau menulis Fath al-Baari. Dalam bidang Rijal, beliau menulis Tahdzib at-Tahdzib Taqrib at-Tahdzib, Lisan al-Mizan, dan Al-Ishabah. Dalam mensyarah hadits, Ibnu Hajar mensyarah secara lengkap dari para perawinya kemudian matannya. Beliau juga menjelaskan para rawi secara mendetail, kemudian mensyarah matannya kalimat demi kalimat dan di akhir pensyarahan beliau menambahkan pendapat ulama ataupun kesimpulan dari hadits tersebut.

Dalam kitab “Fath al-Baari bi Sharh Shahih al-Bukhari”, Ibnu Hajar al Asqalani menjelaskan masalah bahasa dan i'rab dan menguraikan masalah penting yang tidak ditemukan di kitab lainnya, juga menjelaskan dari segi balaghah dan sastranya, mengambil hukum, serta memaparkan berbagai masalah yang diperdebatkan oleh para ulama, baik menyangkut fiqih maupun ilmu kalam secara terperinci dan tidak memihak. Di samping itu, beliau mengumpulkan seluruh sanad hadits dan menelitinya, serta menerangkan tingkat keshahihan dan keda'ifannya. Semua itu menunjukkan keluasan ilmu dan penguasaanya mengenai kitab-kitab hadits.

Pengaruh Pemikiran Ibnu Hajar

Salah satu hal yang mempengaruhi pemikiran Ibnu Hajar adalah pemikiran seorang tokoh besar dalam sejarah Islam yang telah menghabiskan waktunya untuk membela Islam, mengajarkan ilmu, berjihad dan berijtihad yaitu Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah memiliki nama lengkap Taqiyuddin Abu al-’Abbas Ahmad ibn Abdul Halim ibn Abdul Salam ibn Abdullâh ibn Abul Qasim Al-Khidr ibn Muhamad ibn Taimiyyah. Dilahirkan pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 661H/1263M di Haram, kini propinsi Sanliurfa di tenggara Turki, dekat dengan perbatasan Syria. Akibat serangan Mongol ke wilayah itu, Ibn Taimiyyah kecil harus mengungsi bersama keluarganya ke Damaskus saat berusia tujuh tahun.

Ibnu Hajar sangat mengagumi Ibnu Taimiyyah, walaupun banyak ulama-ulama yang mengkritik Ibnu Taimiyyah dan bahkan mengkafirkan Ibnu Timiyyah. Ibnu Hajar dalam salah satu pernyataannya pernah memuji Ibnu Taimiyyah, “Pengakuan akan keimaman (ketokohan) Taqiyuddin (ibnu Taimiyyah) lebih terang dan pada matahari. Gelaran Syaikh al-Islam pada zamannya masih terus lestari hingga sekarang di atas lidah-lidah yang berbudi luhur dan akan lestari hingga hari esok sebagaimana hari kemarin. Tidaklah seorang pun mengingkarinya kecuali mereka yang tidak mengerti atau berpaling dan sikap adil...”

Banyak kontroversi pada Ibnu Taimiyah yang kemudian terdapat pula pada diri Ibnu Hajar, yaitu antara lain sering kita mendengar bahwa Ibnu Hajar itu anti tasawuf dan penentang sufi, padahal kalau diperhatikan dari sikap dan pandangannya dia adalah seorang sufi dan pengikut ajaran tasawuf suni (yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah), meskipun ia tidak mengistilahkan ajaran tasawuf denga istilah tersebut. Istilah yang sering dipakai oleh Ibnu Hajar adalah istilah suluk akan tetapi substansinya adalah apa yang ada pada ajaran tasawuf.

Dan dalam beberapa kasus Ibnu taimiayah terkesan tidak konsekuen pada pendapatnya, kadang dia mengaku bermadzhab Syafii, atau bermadhab Hambali dan kadang dia juga kadang mengaku berakidah Asyairah namun di lain kesempatan dia juga mencaci tokoh-tokoh Asy’airah seperti Imam Ghazali dan yang lainnya, tidak hanya itu Ibnu Taimiyah juga berani lancang mencaci sahabat Nabi. Hal ini juga dilakukan oleh Ibnu Hajar, kadang dia mengaku bermadzhab Syafii atau bermadhab Hambali dan kadang dia juga mengaku beraqidah Asy’ariah, namun terkadang dia juga melakukan perlawanan terhadap Asy’ariah.

Bahkan karena kekaguman Ibnu Hajar terhadap Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar sering membela Ibnu Taimiyyah atas pertaubatan Ibnu Taimiyyah. Diantara pernyataan Ibnu Hajar adalah ” Dan aku antara saksi bahawa Ibnu Taimiah telah bertaubat kepada Allah daripada akidah yang salah pada empat masaalah akidah yang telah dinyatakan, dan Ibnu Taimiah telah mengucap dua kalimah syahadah(bertaubat daripada akidah yang salah pernah dia pegangi terdahulu)”.

Kesimpulan

Dari uraian-uraian di atas dijelaskan bahwa Ibnu Hajar adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan ilmu pada abad ke empat belas yang merupakan masa keemasan para ulama dan terbesar bagi perkembangan madrasah, perpustakaan dan halaqah ilmu, walaupun terjadi keguncangan sosial politik. Hal ini karena para penguasa di kala itu memberikan perhatian besar dengan mengembangkan madrasah-madrasah, perpustakaan dan memotivasi ulama serta mendukung mereka dengan harta dan jabatan kedudukan. Semua ini menjadi sebab berlombanya para ulama dalam menyebarkan ilmu dengan pengajaran dan menulis karya ilmiah dalam beragam bidang keilmuan. Selain itu, Ibnu Taimiyyah yang menjadi pengaruh besar bagi pemikiran Ibnu Hajar al-Asqani secara tidak langsung memberikan bantuan berupa cara menyikapi berbagai kritikan yang berkaitan dengan ilmu yang dikembangkan.

Mau donasi lewat mana?

Paypal
Bank BRI - KHASUN / Rek : 3660-01-015356-53-8
Traktir creator minum kopi dengan cara memberi sedikit donasi. klik icon panah di atas
Baca juga :
elzeno

Subscribe YouTube Kami Juga Ya